Harry Roesli Disholatkan di Masjid Al-Huda

Erlin  | 12 Desember 2004, 14:26 WIB
Kapanlagi.com - Musisi sekaligus seniman Harry Roesli, yang meninggal dunia di di RS Jantung Harapan Kita Jakarta, Sabtu (11/12) malam, Ahad akan dishalatkan di Masjid Al-Huda, sebelum dimakamkan di pekuburan keluarga di RT03/RW05, Desa Pasirmulya, Ciomas, Kecamatan Bogor Barat.

Wartawan ANTARA dari lokasi pemakaman melaporkan, hingga Ahad pukul 10:30 WIB, suasana --baik di masjid maupun pekuburan--masih belum tampak tanda-tanda rombongan yang mengantarkan alharmhum dari rumah duka di Jl Besuki No 10, Menteng, Jakarta Pusat akan segera tiba.

Dari informasi yang dihimpun, rombongan dari Jakarta akan datang menjelang tibanya shalat Dzhuhur, untuk kemudian dishalatkan di Masjid Al-Huda, yang jaraknya sekitar 5 hingga 10 meter dari liang lahat di pekuburan keluarga itu.

Kesibukan yang menonjol lebih terlihat pada terus berdatangannya para wartawan, baik media cetak maupun elektronik, yang bahkan sejak pukul 08:00 WIB, Minggu pagi sudah "stand by" di sekitar lokasi.

Harry Roesli, Profesor psikologi musik dari Rotterdam Conservatorium Belanda yang kelahiran Bandung 10 September 1951 ini, meninggalkan seorang istri, Kania Perdani Handiman dan anak lelaki kembarnya, yakni, La Hami Krisna Parana Roesli dan La Yala Krisna Patria Roesli, Sejak sakit pada tanggal 3 Desember 2004 lalu, perawatannya dipindahkan ke RS Harapan Kita Jakarta setelah menjalani perawatan di RS Borromeus Bandung.

Awal mula Harry Roesli --anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Mayjen (Purn) Ruslan Roesli itu--masuk RS Borromeus tersebut, terkait setelah ia mendapatkan serangan jantung pada hari Selasa (30/11) hingga akhirnya pada hari Jumat (3/12) lalu dipindahkan ke RS Harapan Kita guna memudahkan pengecekannya kesehatannya itu.

Sebelumnya, Harry Roesli yang memiliki nama asli Djauhar Zaharsjah Fachruddin Roesli tersebut, selain mengalami penyakit jantung namun dirinya juga mengidap penyakit diabetes dan hipertensi.

Hingga pada hari Selasa (30/11) sekitar pukul 18:00 WIB, cucu sastrawan Marah Roesli itu merasakan sesak nafas hingga akhirnya langsung dibawa ke RS Borromeus Bandung untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan.

Meski demikian, kegigihan Harry Roesli, seniman yang dijuluki "bandel" itu, di tengah menjalani pemeriksaan masih menyebutkan kesiapannya untuk mengikuti acara kebudayaan mulai tanggal 8 Desember 2004 dengan keliling Indonesia.

Sejumlah seniman Kota Bandung menilai bahwa meninggalnya musisi kenamaan Harry Roesli dirasakan sebagai pukulan telak bagi dunia kebudayaan bangsa Indonesia karena sosok Harry Roesli sama dengan tokoh HAM, Munir, karena berani mengeluarkan kritikan ketika melihat ketidakadilan. "Setidaknya meninggalnya musisi Harry Roesli merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia khususnya bagi warga Kota Bandung," kata seniman Kota Bandung Iman Sholeh.

Iman Sholeh menambahkan, sosok Harry Roesli merupakan sosok orang yang baik, muda, jujur dan kritis dalam melihat realita yang ada di sekelilingnya, dan sosok sampai sekarang belum ada yang menyainginya dalam sisi musiknya.

Pasalnya, menurut dia, musik yang dibawakan oleh memiliki nuansa untuk menggunggah dan melawan ketidakadilan yang ada, hingga dapat dikatakan musik Harry Roesli bukanlah yang mengandalkan album rekaman atau penyanyi rekaman.

"Lewat karya-karyanya dapat menginspirasikan para pendengar untuk merenungkan dan diresapi maknanya," katanya.

Sementara itu, rekan sesama musisi yang pernah menciptakan tembang legendaris Melati dari Jayagiri, Iwan Abdurrahman, mengatakan, sosok Harry Roesli merupakan sosok "ikon" bagi Kota Bandung.

Ia menjelaskan, sewaktu dirinya sama-sama sekolah di SMP II dan SMA II, sosok Harry Roesli memiliki sifat solidaritas yang cukup tinggi terhadap sesama rekan-rekannya.

Gaya musik yang dimiliki, katanya, mempunyai kreasi tersendiri, hingga dapat dikatakan sampai sekarang tidak ada yang mengalahkannya, serta tembang-tembangnya juga menjadi aspirasi bagi musisi lainnya.

"Setidaknya meninggalnya Harry Roesli merupakan kehilangan yang cukup besar, namun kita harus tetap mendoakan Harry Roesli dan melanjutkan hal-hal yang baik yang telah dirintis sebelumnya," kata Iwan Abdurrahman. (*/erl)

Editor:  

Erlin