Influencer Minta Gratisan: Apa Sih Yang Sebenarnya Terjadi?

Tantri Dwi Rahmawati | Senin, 12 Agustus 2019 15:50 WIB
Influencer Minta Gratisan: Apa Sih Yang Sebenarnya Terjadi?

Kapanlagi.com - Penulis: Tantri Dwi Rahmawati
Editor: Mahardi Eka Putra
Reporter: Adi Abbas Nugroho, Fikry Alfi Rosyadi, Nuzulur Rakhmah, Akbar Prabowo Triyuwono, Irfan Kafril, Sahal Fadhli, Adhib Mujaddid, Wulan Noviarina 

Sebuah unggahan tentang seorang influencer minta gratisan risoles untuk acara ultahnya memulai ini semua. Upaya minta gratisan tersebut tidak berbuah hasil. Malah, pengusaha risoles yang bersangkutan membagikan kisahnya tersebut di media sosial. Ramai lah perbincangan seputar para influencer.

Influencer atau bisa disebut Key of Opinion Leader (KOL) adalah para pesohor dalam platform digital seperti Instagram, Twitter, Facebook, atau YouTube. Beberapa indikator yang bisa diamati secara langsung dari mereka adalah jumlah follower dari ratusan ribu hingga jutaan serta konten-konten iklan yang diunggah dalam akun mereka. Ya, para influencer kerap menerima endorsement sebagai bentuk bisnis mereka.

Unggahan seputar influencer risoles di atas mau tidak mau memancing pembicaraan seputar ulah oknum influencer minta gratisan ini. Tidak sekali dua kali ternyata ada influencer yang meminta tiket event atau produk secara gratis dengan imbalan endorse cuma-cuma. Setidaknya ini dialami sendiri oleh salah satu Marketing Director Perusahaan Film yang kami hubungi. “Sempet beberapa orang-orang dengan followers banyak gitu minta diundang ke premiere film,” terangnya.

Tidak hanya meminta produk secara gratis dengan imbalan endorse, beberapa contoh ulah oknum influencer lainnya antara lain mengaku diri influencer meski followernya belum banyak, tidak melakukan kewajiban seperti yang dijanjikan kepada klien, atau bahkan mangkir dari kesepakatan. Khusus untuk kasus yang disebut terakhir, David Nurbianto si juara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 4 punya sebutan khusus. 

Kalau ada yang begitu, kita harus bilangnya oknum ya. Karena nggak semuanya gitu, banyak juga influencer yang profesional. Dia punya karya dan berkelas lah. Dan sudah terbukti menyukseskan campaign atau brand yang dijual,” ucap pria yang kental dengan logat betawinya ini. Lain David, lain pula Fiani Adila. Sebagai selebgram sekaligus Youtuber berkonten Do It Yourself (DIY), Fiani mengutarakan ia kerap menyaksikan sendiri rekan sesama influencer minta gratisan produk atau jasa. Ia sendiri nggak menyetujui praktik ini.

Aku sering lihat sih maksudnya teman-teman aku juga aku nggak perlu nyebutin namanya, aku merasa kok gitu banget sih. Kalian kan juga besar gara-gara penonton dan followers kalian juga. Kalaupun mau sesuatu sekiranya bisa beli kan beli. Istilahnya kita sama-sama mendukung ekonomi-ekonomi orang Indonesia juga,” terang Fiani.

Meskipun demikian, David menambahkan bahwa sejatinya upaya influencer untuk minta barter itu sah-saja saja. Selama nilai yang ditawarkan juga sepadan serta disepakati oleh kedua belah pihak. “Sekarang sih sah-sah aja ya orang nyari duit. Ya itu tadi bedanya. Macem-macem sih orang sekarang nyari duit atau gratisan. Tapi sebisa mungkin sih menurut gua, lu harus buktiin dulu kalo sosial media lu menarik, banyak followers-nya. Orang suka karena kontennya,” jelas David.

Pedangdut Cupi Cupita yang punya follower 1,7 juta mengaku tidak pernah menawarkan diri meski ia menjalankan medsos untuk bisnis sebagai influencer. “Intinya gua memang menjadikan sosial media gua sebagai bisnis. Yang kedua, gua tidak pernah menawarkan diri brand atau ke siapapun untuk memakai jasa gua sebagai influencer. Yang ada gua menerima tawaran. Jadi bukan gua yang minta,” terangnya.

Cupi bahkan merasa bahwa followersnya cuma titipan yang bisa hilang kapan saja. Ia sampai enggan menyebut diri sebagai influencer. “Karena gua ngerasa bikin Twitter gratis, bikin Instagram gratis, followers gua juga cuma titipan, bisa kapan aja pergi, gua nggak sepede itu untuk jualan jasa sebagai influencer gitu. Makanya di bio gue juga nggak nyebut sebagai influencer gitu, sebagai public figure aja,” lanjut wanita 27 tahun ini.

 

 

 

 

1 dari 10 halaman

1. Influencer Minta Gratisan: Tergantung Kedua Belah Pihak

Influencer Minta Gratisan: Tergantung Kedua Belah Pihak Inivindy © instagram.com/inivindy
Beberapa narasumber lain yang kami hubungi nyatanya memberikan respon beragam. Salah satunya adalah beauty-preneur Vindy Harfrida (lebih dikenal dengan nama Vindy yang Ajaib @inivindy). Perempuan asal Malang ini melihat bahwa influencer yang minta gratisan itu sah saja selama kedua belah pihak sepakat dan sama-sama diuntungkan.

“Kalau memang yang diminta gratisan oleh influencernya juga butuh, rasanya bakal win-win solution. Cuma kalau yang punya usaha merasa si influencer tidak sesuai kriterianya, bisa jadi merasa risih,” tuturnya lewat pesan suara kepada kami.

Pendapat yang sama disampaikan oleh Claresta Haniyah. “Kalau si influencer mau liburan lalu nawarin ke hotel kamar gratis dengan feedback posting sesuai yang disepakati, selama mereka sepakat, nggak ngerugiin salah satu pihak dan bener diposting sih aku fine-fine aja,” tuturnya. Jika kemudian oknum influencer mangkir dari kesepakatan, influecer yang gemar bikin konten beauty ini menilai tabiat orang tersebut yang bermasalah.

Tina Toon menyebut aksi influencer “minta gratisan” tersebut sebagai upaya untuk barter. Baginya, hal tersebut wajar apalagi ketika barternya dilakukan oleh sesama influencer. “Kalau sesama influencer minta itu lebih barteran, kalau itu iya tapi lebih ke pertemanan soalnya gak ada ruginya juga kalau misalnya post-post gitu, saling bantulah ibaratnya, tapi kadang aku ada management, harus ada management fee tapi kadang-kadang managemen aku santai. Jadi memang bukan sumber utamanya dari situ, jadi itu tambahan-tambahan saja,” ujar mantan penyanyi cilik ini.

Contoh lain seputar barter ini datang dari Irfan Hakim. Host kondang ini ceritakan pengalamannya menginap di hotel dan diberikan upgrade kamar secara cuma-cuma. “Gue datang ke suatu hotel masuk dengan prosedur seperti biasa, mereka tau gue dan mereka upgrade kamar yang gue pesan dengan fasilitas dan pelayanan yang lebih bagus itu dikasih sama mereka ke gue, itu gue terima,” tukasnya.

Dengan upgrade itu Irfan lantas berikan feedback berupa review hotel. “feedbacknya buat mereka sesuai etika gue tanpa diminta pasti gue lakuin buat kayak ngereview hotel mereka gitu. Tapi kalau sampai ngemis-ngemis gitu nawarin diri gitu kalau buat gue enggak banget,” lanjut Irfan.

Alih-alih minta fasilitas gratis, Irfan nggak segan beri review gratis bahkan saat pihak hotel nggak meminta. Alasannya lebih karena ia ingin membagi apa yang betul-betul ia rasakan. “Kalau memang bagus dan recomended pasti tanpa diminta gue share karena gue mau orang lain ngerasain apa yang gue rasain di hotel tersebut. Padahal gue di sana bayar tapi emang karena enak dan bagus pasti tetap gue share,” imbuh pria 43 tahun ini. Selain hotel, Irfan juga kerap berikan review soal moda transportasi seperti PTKAI, Bandara, dll.

2 dari 10 halaman

2. Standar Untuk Bisa Disebut Influencer Itu Seperti Apa?

Standar Untuk Bisa Disebut Influencer Itu Seperti Apa? Amrazing © instagram.com/amrazing
Beda orang beda kebijakan. Pun dalam dunia para influencer ini. Satu dengan yang lainnya bisa jadi punya aturan berbeda dalam menjalankan profesi dan bisnis mereka. Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah seperti apa sebetulnya standar bagi seseorang/suatu brand untuk bisa disebut influencer? Apakah ada jumlah followers minimal yang harus dicapai?

Merunut dari kata influence, boleh dikatakan seorang influencer haruslah mampu mempengaruhi para follower-nya. Setidaknya menurut Claresta Haniyah, influencer adalah orang yang mampu berikan pengaruh positif ataupun negatif. "Bisa dalam hal yang positif ataupun sebaliknya," tutur wanita yang sudah jadi selebgram sejak usia 18 tahun ini. Bahkan ketika seseorang sudah bisa mempengaruhi teman atau followernya di media sosial atau platform lainnya, ia sudah bisa dikatakan sebagai influencer. Tanpa melihat jumlah followernya. 

“Misalnya aku nih, followernya hanya 10 tapi di dunia nyata aku beli handphone dan bisa mengajak orang untuk beli handphone yang sama, dan dia beli. Aku sudah menginfluence dia,” tutur Alexander Thian, atau kita mengenalnya lewat @amrazing baik di Instagram atau Twitter. Alex selama ini dikenal sebagai penulis sekaligus influencer yang gemar traveling.

Pendapat yang sama juga diutarakan oleh Fiani yang menyebut bahwa siapapun bisa menjadi influencer selama mereka mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya, besar ataupun kecil skalanya. “Influencer itu adalah siapapun bisa jadi influencer maksudnya sahabat kita juga bisa menginfluence diri kita,” ucapnya ketika kami tanya seputar hal ini. Ditambahkannya, orang dengan banyak follower tidak serta merta menjadi influencer meski salah satu indikator yang kentara adalah jumlah follower.

Sesuai dengan namanya, influencer adalah orang yang mampu berikan pengaruh. Begitulah setidaknya definisi influencer menurut Irfan Hakim. Ia tegaskan influencer nggak melulu harus selebritis. “Enggak harus artis, orang biasa pun bisa juga karena kan influencer itu banyak, kayak gue kan juga punya produk juga gue pun pakai jasa seorang influencer buat ngepromosiin produk gue. Di era digital seperti sekarang ini, Influencer itu cukup berpengaruh,” terang Irfan.

Tak cukup dengan memberikan pengaruh kepada para follower, seorang influencer perlu secara konsisten memberikan pengaruh yang baik. Influencer juga perlu menjaga keorisinalitasannya. Vindy mengaku bahwa ia menjadi seperti sekarang berkat terus berbagi apa yang ia suka.

“Tidak hanya dia bisa menjual sesuatu/produk. Dari diriku sendiri aku mulanya ya suka sharing, ketika kita dapat rezeki dari situ jangan sampai tujuan semula untuk berbagi jadi terbiaskan oleh keuntungan atau hasil dari berbagi itu. Itu saja sih,” tutur Vindy.

Perihal originalitas ini juga dipandang penting oleh Auora Lovenson Chandra, CEO dari Famous.id. Menurutnya Influencer perlu punya Point of View (POV) sehingga punya nilai tambah bagi para followersnya. “Punya POV yang jelas dan content yang mereka buat bisa punya adding value untuk audience mereka. Tentunya, dalam hal branded content, mereka perlu following yang cukup juga. Saya prefer mereka dipanggil kreator daripada influencer,” tukasnya.

Kemudian, satu indikator yang paling terlihat mata dari seorang influencer tak lain adalah tingginya interaksi yang dihasilkan dari aktivitas mereka di media sosial. “Influencer yang gua tau ya, dia yang punya banyak followers di sosial medianya, yang berpengaruh. Yang setiap nge-tweet, yang nge-like, yang nge-retweet, yang nge-reply banyak. Rame lah sosmed istilahnya. Nah dia memanfaatkan itu untuk bisnis. Kalo gua pribadi mungkin termasuk influencer juga semenjak gua juara SUCI 4 ya, jadi banyak brand yang nawarin kerjasama. Bisa dibilang buzzer juga sih,” papar David.

Boleh dikatakan seorang influencer harusnya punya effort lebih dalam ber-media sosial mengingat platform ini adalah ladang mereka. “Influencer itu kalau buat aku sih orang-orang yang punya effort di sosial media, punya followers jadi ibaratnya sebagai pengiklan juga,” menurut Tina Toon.

3 dari 10 halaman

3. Istilah yang Perlu Dipahami Dalam Dunia Influencer

Istilah yang Perlu Dipahami Dalam Dunia Influencer Irfan Hakim © KapanLagi.com/Agus Apriyanto
Ketika seseorang berniat menjadi influencer, ia tak hanya harus memenuhi standar utama di atas, ternyata istilah influencer atau KOL ini punya banyak macamnya lho! Endorser merupakan  para influencer yang bekerja sama dengan brand sebagai klien. Tugas mereka melakukan endorse atas barang atau jasa. Endorse ini imbalannya bisa beragam tergantung kesepakatan dengan klien.

Tidak ada rumus pasti dalam perhitungan tarif endorse. Tarif endorse tiap KOL tentu saja berbeda satu sama lain. Namun besaran jumlah fee bisa diperkirakan dari jumlah followers, popularitas dan engagement sang KOL itu sendiri. 

Selain itu ada pula istilah Selebgram. Istilah selebgram alias selebriti-Instagram tentu tak asing untuk KLovers semua. Akun berfollowers puluhan atau ratusan ribu ini biasanya sudah bisa dikategorikan sebagai selebgram. Tak jarang para selebgram ini membuka kesempatan endorse produk.

Masih soal ‘seleb', sebelum hadirnya Instagram barangkali yang cukup marak adalah istilah selebtwit. Sesuai dengan namanya, kepopuleran KOL satu ini ada di dunia Twitter. Selebtwit tak mengandalkan visual layaknya selebgram, namun kisah menarik yang mereka tuturkan. Informasi, joke bahkan cerita yang dibagikan menjadi pesona mereka. Status 'seleb' di twitter tentu saja juga masih dipengaruhi dari jumlah followers serta tingkat engagement tiap cuitan.

Ada juga buzzer. Cara kerja Buzzer adalah dengan menyampaikan serangkaian informasi dengan cara berulang-ulang. Ada waktu yang ditentukan untuk kapan mereka bisa menyampaikan informasi tersebut. Dengan cara kerja tersebut Buzzer nggak bertanggung jawab untuk meyakinkan followersnya.

4 dari 10 halaman

4. Apakah Youtuber Juga Bisa Disebut Influencer?

Apakah Youtuber Juga Bisa Disebut Influencer? David Nurbianto © KapanLagi.com/Budy Santoso
Masih soal definisi influencer, nggak sedikit yang bingung apakah para content creator di Youtube juga bisa disebut influencer. Menurut Vindy, hal itu tergantung dari konten Youtubenya.

“Menurut aku tergantung konten youtubenya sih. Kalau isinya menampilkan sosok yang dikenal dan apa yang dikerjakan memberikan pengaruh ya bisa disebut influencer. Kalau isinya cuma sekadar video info saja ya belum bisa disebut influencer,” tukasnya.

Vindy sampai saat ini telah memilik 1,6 juta subscriber di channel YouTubenya. Wanita yang lebih suka menyebut dirinya beautypreneur ini rutin menyajikan konten kencantikan baik itu lewat video tutorial, make-up challenge, atau sketsa parodi.

5 dari 10 halaman

5. Mengintip Dapur Kerja Para Influencer

Mengintip Dapur Kerja Para Influencer Claresta Haniyah © instagram.com/clarahnyh
Yang nggak kalah bikin penasaran soal dunia influencer ini adalah cara kerja endorsement. Ternyata ada bermacam-macam lho. Seperti contohnya Claresta, ia nggak melulu menerima endorsement dari online shop, tapi dari campaign brand juga. Sementara Inul Daratista lebih memilih-milih dalam memberikan harga kerjasama. Artinya ada kerjasama yang memang menggunakan kontrak dengan harga profesional, ada juga yang tidak.

“Kalau saya itu, jujur ada dua produk yang benar-benar resmi, misal Mi Burung Dara yang kontrak setahun dan ada produk vitamin. Selebihnya endorse yang sifatnya membantu, misal kayak tadi pisang. Mereka nggak perlu bayar, aku berpikir logika saja, mereka jualan kan untungnya juga nggak seberapa,” terang Inul. Ia juga mencontohkan produk Durian Papi yang kini viral berkat bantuan endorse cuma-cuma darinya. 

Lain Inul lain pula Tina Toon. Artis 25 tahun ini hanya mau terima endorse dari produk yang memang cocok dengannya. “Kalau endorse aku terima tapi pilih-pilih karena gak semuanya diterima, intinya sih yang cocok sama aku, ibaratnya win win, aku lihat kalau cocok mempromosikan itu kan mereka harus bayar rate tertentu, nah kalau aku merasa kalau aku bisa mengiklankan bagus, aku terima, kalau yang kurang meyakinkan, kayak kecantikan atau makanan gak ada BPOM ya aku gak mau. Pokoknya yang aman-aman aja lah,” terang Tina.

Singgung-singgung soal rate endorsement, Tina Toon ogah sebutkan angka pastinya. Urusan rate ia serahkan ke manajemen. “Kalau rate ada di management sih dan kadang-kadang aku kalau endorse itu kayak online shop baru kadang aku bantu, yang penting untuk manajemen fee ibaratnya bantu lah,” imbuh wanita bernama lengkap Agustina Hermanto ini. 

Selain endorsement pribadi, ada juga campaign yang memang dilakukan oleh banyak influencers secara bersama-sama. Seperti contohnya yang dialami oleh David Nurbianto. “Karena kita sesama influencer ketika ada campaign bareng kita dibikinin grup. Kadang kita kopdar juga, banyak kenal juga. Semua yang gue temuin selama ini diharapkan profesional ya, nggak ada yang aneh-aneh kaya gitu,” jelasnya. 

Masih soal alur kerja sama, Vindy memilih untuk punya manajer pribadi ketimbang bergabung pada manajemen tertentu. Pilihan itu diambil bukan tanpa pertimbangan. “Kalau aku sendiri punya manajer pribadi, orang terdekat aku. Aku nggak ikut memanage. Manager pribadi sudah tahu kekuatan kita, ukuran kita. Keuntungan bergabung di manajemen ya nggak susah untuk cari job. Alurnya ya dua, dicarikan manajemen atau klien mendatangi kita. Klien pun bisa secara langsung atau mereka dibantu oleh agen,” ujar Vindy.

Memilih untuk punya manajer sendiri ternyata nggak cuma dilakukan oleh Vindy tapi juga oleh Alex. Ia yang suka traveling jadi sangat terbantu dengan adanya manajer. “Manajerku ya temenku sendiri. Aku kan sering traveling, maka aku tidak punya waktu untuk ngurusin invoice atau briefing apa pun. Dia ngebantu aku filter duluan. Dia yang tahu alex cocok nggak dengan brand ini, bisa nggak endorse ini. Ketika sampai di aku, aku tinggal pilih mana yang bisa,” terang influencer yang mengandalkan kemampuan story telling ini.

Lagi-lagi demi menjaga integritas, Alex punya kebijakan tersendiri terkait dengan etika. “Misal aku sudah ambil brand dari satu bank, maka aku tidak akan ambil brand bank yang lain. Karena menurut aku, itu tidak etis. Entah yang lain. Karena aku ingin dikenal sebagai orang yang punya referensi terpercaya,” imbuhnya.

Etika seperti itulah yang selalu dipegang oleh Alex. Pasalnya jelas, Alex menyadari pengaruhnya sebagai influencer harus dipertanggungjawabkan. “Misal hari ini pakai lotion A, lalu besok B, eh lusa C. Atau promosiin behel murah yang berbahaya karena kamu dibayar. Bagaimana kalau seandainya ada follower yang terpengaruh, lalu pakai, dan sakit? Makanya sering aku kritisi,” ujar Alex.

Ya, kebiasaan influencer yang suka mengambil semua tawaran promosi dan berorientasi cuma pada keuntungan ini dikritik keras oleh Alex. “Kalau ada teman-teman mereka (influencer yang dikritisi) yang serang balik, aku nggak peduli. Mereka harus digituin. Karena netizen kita terbiasa melihat kulit daripada isi. Dan itu sangat disayangkan,” jelas penulis buku Somewhere Only We Know ini.

Menyikapi influencer yang nodong minta gratisan, Irfan beberkan sejumlah alur kerja sama yang ternyata ada prosedurnya. “Yang normal ya si pemilik produk ngehubungi kita, nego harganya dan minta apa aja. Apakah minta video, foto, story, feed instagram atau Youtube vlog berapa menit dan itu semua ada harganya, gimana profesionalnya seorang influencer tersebut,” terang Irfan..

Kerjasama sebagai influencer bagi Irfan nggak melulu soal uang terlebih kalau sama teman sendiri. “Kalau gue sih, misal temen punya usaha gitu pasti gue bantuin gitu 'sini barangnya biar gue posting' segampang itu menurut gue jadi nggak melulu soal uang,” imbuh pria asal Bandung ini.

Ya, memang nggak melulu soal uang. Kendati sudah ada prosedur dan harga postingan, Irfan malah nggak segan berikan review gratis. Alasannya sederhana, ia ingin berbagi pengalaman saja. “Kalau gue sih kadang justru misalnya kalau gue datang ke suatu tempat atau menggunakan suatu produk kalau gue merasa nyaman atau suka tanpa diminta, tanpa dibayar pun gue ingin berbagi sama orang dengan pengalaman gue itu. Jadi kadang gue bikin vlog di youtube, instastory, atau bahkan di feed instagram gue tanpa bayaran pun gue lakukan jika memang gue puas sama barang atau tempat itu,” tutur Irfan.

Lebih lanjut, menurut Irfan, alih-alih nodong gratisan, yang kerap terjadi malah ia diminta untuk promosikan produk atau jasa. “Dan itu biasanya yang pernah gue alami itu justru yang punya produk itu yang meminta kita buat promosikan produk mereka, bukan kita (Influencer) yang meminta sama pemilik produk,” tukas Irfan.

6 dari 10 halaman

6. Gara-Gara Influencer Minta Gratisan, Apa yang Terjadi?

Gara-Gara Influencer Minta Gratisan, Apa yang Terjadi? Inul Daratista © KapanLagi.com/Bambang E Ros
Beberapa selebriti yang kami tanya seputar hal ini mengaku belum tahu mengenai aksi influencer nodong gratisan. Inul Daratista yang menjadi salah satunya tegas menjawab bahwa hal tersebut menunjukkan perilaku tidak baik dari oknumnya. “Attitudenya sih menurut aku nggak bagus,” tutur Inul singkat.

Selain tidak tahu menahu soal itu, Inul yang punya banyak bisnis ini juga nggak pernah merasakan ditodong gratisan oleh influencer. “Nggak ada sih. kalau biasanya distributor yang sudah kerja sama. Kalau (infuencer) yang abal-abal mengaku-ngaku belum dan mudah-mudahan nggak ada,” imbuh Inul.

Sementara salah satu selebriti yang tahu soal fenomena ini adalah Tina Toon. Setidaknya gara-gara hal tersebut, Tina Toon menyebut imej influencer jadi terpengaruh. “Imej negatif influencer berpengaruh sebenernya tergantung, ada yang influencer diterima semua, orang bisa nilai sebenernya dan semua masing-masing punya kelasnya dan klasifikasinya masing-masing,” ujarnya. 

Berbeda dari Tina, Alex justru menilai positif terungkapnya aksi influencer minta gratisan ini. Dipaparkannya, fenomena ini bikin pihak brand ke depannya jadi makin bijak dalam memilih influencer. “Ada sih (dampaknya). Orang jadi lebih tahu mana yang punya kualitas mana yang cuma minta gratisan. Aku senang ada artikel seperti itu. Brand jadi nggak seenaknya milih berdasarkan followernya aja. Mereka lebih memilih influencer yang tepat karena setiap orang kan punya keunikannya sendiri. Semua orang punya personal brand sendiri. Sehingga tidak semua brand cocok dengan semua influencer,” ujar pria pecinta kucing dan anjing ini.

Meski demikian ia tak sependapat jika karir para influencer diyakini bakal meredup gara-gara aksi oknum ini. Sebelum aksi oknum influencer minta risoles muncul, pembicaraan seputar kejatuhan para influencer ramai dibahas di media sosial, blog, dan juga media. Alex menyebut bahwa kenaikan pamor influencer di tanah air justru masih baru dimulai.

“Influencer marketing ini baru dini hari. Yang diambil hanya beberapa kasus dan tidak mencerminkan semua influencer di indo atau dunia. Bukan membela diri ya, banyak yang nggak ngarepin jadi influencer. Kalau senjakala sih salah banget. Karena baru mulai kita,” imbuh Alex.

Senada dengan Alex, Vindy pun menilai kehadiran influencer ini makin hari makin marak dan akan semakin menghadirkan banyak tantangan. “Menurut aku, tren influencer itu bukannya tambah turun, tapi tambah banyak. Dan influencernya akan tambah banyak. Saking banyaknya itu, maka bisa jadi ke depannya tidak ada satu atau dua orang yang paling menonjol. Nah peer-ku sebagai kreator konten, aku perlu menjadi lebih kreatif untuk bisa menyuguhkan hal berbeda dari yang lain,” tuturnya. 

Jika Alex dan Vindy sama-sama menolak sebut masa kejayaan influencer akan meredup, Aurora Lovenson Chandra malah melihat lebih dari itu. Menurutnya, influencer sudah menjadi stakeholder. “Brand melihat mereka sebagai salah satu stakeholder. Mereka ini bisa memberikan opini dari angle, yang akhirnya bisa memberikan relevansi lebih,” tutur Kreator dan CEO Famous.ID ini.

Bahkan Bagi Aurora, influencer yang sekadar aji mumpung pun akan tetap banyak seiring dengan perkembangan dunia influencer. “Ke depannya para kreator ini akan makin berkembang. Yang baik akan makin berkembang, yang aji mumpung akan tetap banyak, tapi akan silih berganti. Speed nya cepat sekali,” imbuhnya.

7 dari 10 halaman

7. Potensi Para Influencer yang Masih Akan Berkembang

Potensi Para Influencer yang Masih Akan Berkembang Cupi Cupita © KapanLagi.com/Adrian Utama Putra
Sedari tadi membicarakan influencer, rasanya nggak lengkap nih kalau nggak mengulas pandangan dari pihak klien atau brand yang menggunakan jasa mereka. Siapa sangka, kendati sempat muncul aksi nodong gratisan, influencer masih begitu dipercaya untuk kegiatan marketing. 

Potensi (influencer) sangat besar sih dalam merubah kegiatan marketing ke depannya karena Word of Mouth (WOM). Sebagai salah satu ‘tool' ya untuk dipertimbangkan karena jaman sekarang, WOM sangat besar pengaruhnya terhadap sesuatu. Mereka bisa membantu dalam hal tersebut,” terang salah satu marketing perusahaan film yang enggan disebut namanya. 

Hal itu disepakati juga oleh Claresta. "Influencer di medsos masih yang paling powerful,” tukas influencer yang miliki pendapatan lebih dari 15 juta per bulan ini singkat. Senada dengan Clara, Alex juga merasa influencer masih punya potensi yang sangat besar. Pasalnya digital marketing memang baru berkembang di Indonesia. 

“Sangat gede. Ya seperti aku bilang, digital marketing di Indonesia itu baru mulai. Instagram meledak itu baru beberapa tahun lalu. Sementara pengguna instagram di Indonesia itu belum semua. Pangsa pasarnya masih banyak. Banyak brand yang belum mengerti digital marketing itu seperti apa,” tutur Alex.

Sayangnya, potensi yang demikian besar belum dibarengi dengan konsesus seputar besaran fee ketika menggunakan jasa mereka. Hal ini pernah dirasakan Diza Vahleri, salah satu sales Kapanlagi Youniverse (KLY) yang kerap memakai jasa influencer.

“Sebenarnya sering sih ya kecewa, kadang-kadang influencer kan suka ngasih harga nggak sesuai dengan followersnya mereka dan kualitas engagement dari yang mereka dapatkan,” tutur Diza. Feed back yang setimpal rasanya wajar diharapkan Diza, pasalnya ia pernah membayar influencer hingga Rp 100 juta. “Paling mahal 100 juta, paling murah 2 juta,” lanjutnya. 

8 dari 10 halaman

8. Hitung Kasar Perolehan Para Influencer

Eits, bicara soal fee para influencer sebetulnya seperti apa penghitungan yang digunakan? Pertama-tama, tarif satu influencer baik yang mandiri atau ikut agensi tentu berbeda-beda. Penghitungan yang kami sadur dari Scrunch.com ini hanyalah gambaran kasar seperti apa menghitung "kekuatan" para influencer. Perhitungan itu lantas jadi dasar untuk mengajukan harga yang pas. Khusus untuk perhitungan ini kami menggunakan Twitter.

Pertama-tama kita perlu menghitung rating engagementnya dengan menjumlahkan likes, komentar, retweet dari semua postingan influencer. Hasil tersebut lalu dibagi dengan jumlah follower. Setelah hasilnya keluar kemudian dibagi lagi dengan jumlah postingan yang ada di akun influencer tersebut. Angka yang keluar bisa jadi acuan sementara untuk mengetahui rating engagementnya.

Perlu diperhatikan juga bahwa influencer yang tenar di Twitter tidak serta merta tenar di platform lain seperti Instagram, Facebook, atau YouTube. Scrunch.com telah melakukan analisa terhadap jutaan akun dan menyimpulkan tingkatan influencer sebagai berikut: 

- Jika rating engagementnya berada di antara 0 persen dan 0,02 persen bisa dikategorikan rendah. 

- Jika rating engagementnya berada di antara 0,02 persen dan 0,09 persen bisa dikategorikan bagus.

- Jika rating engagementnya berada di antara 0,09 persen dan 0,33 persen bisa dikategorikan tinggi, dan 

- Jika rating engagementnya berada di antara 0,33 persen dan 1 persen bisa dikategorikan sangat tinggi

9 dari 10 halaman

9. Selektif Dalam Memilih Para Influencer

Selektif Dalam Memilih Para Influencer Aoura Lovenson Chandra © instagram.com/aourachandra
Walau paham betapa powerfullnya influencer, pihak marketing director ternyata masih tetap selektif dalam memilih influencer yang akan diajak kerja sama. Persona atau karakter influencer menjadi pertimbangan utama. Mereka juga punya Standar Operasional Prosedur (SOP). 

“Kalau aku selektif banget milih influencer, nggak sembarang hanya patok followers atau engagement karena semuanya bisa ‘dimainin' sekarang itu. Aku lihat lebih ke persona atau pribadi figur tersebut, interaksi mereka dengan followers, dan impact apa yang bisa diambil nantinya untuk brand aku,” tuturnya.

Ia juga menambahkan testimoni dari sesama pengguna jasa sangat dipertimbangkan. Selain itu, bekerja sama dengan influencer harus pandai-pandai bernegosiasi. “Jadi lebih pandai dalam negosiasi dan menjaga hubungan dengan brand karena kami seperti ‘bertukar konten' dan sama-sama senang, jadi bisa lebih dipahami lagi aja bagaimana menghadapi satu dengan lainnya,” imbuhnya.

Selektif dalam memilih influencer ini juga disepakati oleh Alex. Menurutnya harus ada filter dari pihak brand. Alex percaya dengan begitu influencer abal-abal nggak akan bertahan lama. “Ada tiga pihak sih, brand, agensi, dan influencernya sendiri. Brand dan agensi perlu filter mana yang baik dan nggak. Aku percaya teorinya Darwin sih, hanya orang-orang terbaik yang akan bertahan. Jadi yang abal-abal mungkin sekarang dapat job tapi ke depannya nggak bakal bertahan,” jelas Alex.

Sementara itu, menurut Cupi Cupita, selain ada SOP biasanya klien punya request tertentu. Salah satu request yang kerap ia terima adalah memasarkan produk sambil menambahkan goyangan. Menurutnya itu dirasa efektif untuk meningkatkan engagement.

“Kalo misalkan produk biasa juga, kala dia (klien) berani ya, karena kalau pakai goyangan itu pasti orang lebih kayak untuk tertarik banget ngeliat. Bisa jadi apa aja sih, karena mereka mungkin berfikir kalau misalkan pakai goyangan orang lebih tertarik untuk nonton ya mereka juga otomatis mau nggak mau mendengarkan apa yang aku sampein,” tutur pedangdut yang pernah merilis album GOYANG BASAH ini. 

10 dari 10 halaman

10. Harapan ke Depan: Perhatian Utama Tetaplah Konten

Dunia influencer masih akan berkembang dengan makin banyaknya orang yang tertarik menjadi salah satu pegiatnya. Terlebih tercatat ada 130 juta pengguna internet di Indonesia menjadi lahan untuk para influencer. Meski begitu, tantangan yang dihadapi juga tidak sedikit. Salah satunya adalah terus menjaga konten yang positif dan tidak membodohi follower.

Fenomena minta gratisan ini muncul sebab banyak influencer yang nggak memahami tanggung jawabnya. Sekadar foto bagus dan punya banyak follower saja nggak bisa lantas disebut influencer. Setidaknya begitu lah menurut Alex.

“Banyak orang yang tidak mengerti scope kerja influencer itu sendiri seperti apa. Mereka itu tidak hanya datang ke suatu tempat, foto-foto, posting, kelar. Ada tanggung jawab yang lebih besar daripada itu.  Misal bagaimana ia turut bertanggung jawab mempromosikan suatu daerah tapi juga mengajarkan ke followernya untuk lebih menjaga lingkungan, menghargai budaya, bagaimana cara untuk tidak kurang ajar ketika berhadapan dengan masyarakat lokal,” jelas pria penyuka fotografi ini.

Alex juga merasa istilah influencer ini sudah overused. Di sisi lain, influencer sendiri juga mulai kehilangan integritas. Alex sendiri berupaya menjaga integritasnya dengan cuma mau mempromosikan produk yang memang sudah ia coba. “Ketika aku dibayar untuk mempromosikan sesuatu, aku akan coba dulu. Kalau menurut aku oke, aku akan bantu. kalau nggak ya kutolak. Masalahnya saat ini orang-orang hanya melihat duitnya saja. Integritas influencer jadi dipertanyakan,” ujarnya.

Kedepannya, Alex berharap para influencer memperbaiki konten mereka. Lain halnya dengan Alex, Aurora berharap para influencer bisa makin memberi value pada audiensnya. “Komunikasi bisa lebih baik dan mereka harus tetap jujur dan paham dengan audience mereka. Fokus untuk memberikan value kepada audience, bukan focus di followers atau endorsesment,” ujar Aurora.

So, KLovers sebagai pengguna internet seperti apa opini kalian tentang para influencer? Semoga artikel ini bisa memberi kalian sedikit gambar seputar dunia influencer ya. 

(kpl/dka/abs/far/rhm/tdr/aal/irf/apt/phi)


↑