Bosan dengan berita itu-itu saja? Download Aplikasi Liputan6

Karena Sudah Jarang Terdengar, Ira Maya Sopha dan Sandhy Sandoro Usung Lomba Cipta Lagu Anak

Selasa, 27 September 2022 09:32 WIB
Karena Sudah Jarang Terdengar, Ira Maya Sopha dan Sandhy Sandoro Usung Lomba Cipta Lagu Anak
Ira Maya Sopha dan Sandhy Sandoro (credit: Kapanlagi.com/Irfan Kafril)

Kapanlagi.com - Saat ini, Lagu Anak di Industri Musik Indonesia sudah sangat jarang bahkan nyaris tak pernah terdengar. Dibanding pada era 70 hingga 90an, perkembangan Lagu Anak Indonesia masih sanggup bersaing diindustri musik tanah air.

Bahkan perkembangan lagu anak-anak kala itu didukung pula dengan para artis Cilik seperti Chicha Koeswoyo, Yoan Tanamal, Adi Bing Slamet, Ira Maya Sopha, Dina Mariana dan lain-lain, hingga regenerasi berikutnya mulai dari Puput Novel, Okky Lukman, hingga era Joshua, Chikita Meidy, Eno Lerian, Tina Toon, Trio Kwek Kwek, Meisi, dan seterusnya. Setelah itu, seiring berkembang jaman lagu anak pun sudah jarang kita dengar saat ini.

Now that you are AWAKE, it's time for you to wake right now!

Awake

1. Timbul Keresahaan

Gambar

Hal ini pun menimbulkan keresahan dikalangan orangtua tanpa terkecuali. Keresahan ini pun ditanggapi oleh Ira Maya Sopha dan Sandhy Sandoro bersamaan dengan usulan dari Executive Producer Richard Buntario, CEO Broadcast Design Indonesia.

"Jaman saya dulu masih kecil sampai generasi Shandy kami masih stay mendengar lagu anak-anak, tapi sekarang nggak ada karena orang tua jaman sekarang mungkin lebih membuat semua lebih mudah dengan cara memberi anak-anak fasilitas, jadi pola fikir dan tingkah laku anak dengan kemajuan teknologi jaman membentuk karakter anak," ungkap Ira Maya Sopha saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan belum lama ini.

2. Karena Kurangnya Kesadaran

Gambar

Ira juga menilai fenomena ini juga terjadi karena kurangnya kesadaran dari pada orangtua. Pasalnya, banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa anak-anak mereka menirukan hal yang sering dilakukan di rumah seperti mendengarkan lagu-lagu dewasa.

"Jadi orangtua adalah satu figur, dalam rumahtangga ada sistem duplikasi, orang tua sering banget dengar lagu dewasa tanpa mereka sadari ada anak-anak mereka yang ikut mendengarkan, kan yang penting hiburan mungkin menghibur buat orang tua tapi tidak dengan anaknya," ujarnya.

"Anggaplah terhibur tapi sebenrnya mereka kehilangan identitas sebagai anak-anak karena arti dan esensi dalam lagu mereka tidak tahu makanya kami semua konsen dan mau banget lancarkan semua niat baik kita didukung partisipasi masyarakat juga," lanjutnya.

3. Bentuk Rasa Sayang Pada Anak-anaknya

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Sandhy Sandoro pun menuturkan bahwa keterlibatannya merupakan bentuk rasa sayangnya pada anak-anaknya. Ia pun membandingkan bagaimana perkembangan anak-anak Indonesia dengan anak-anak di luar negeri.

Menurutnya, orangtua di Indonesia terkesan membiarkan anak-anak mereka bermain dengan gedget. Oleh karena itu Sandhy merasa adalah tugas orangtua untuk menyaring apa yang ditonton oleh anak-anak mereka.

"intinya saya sayang anak ya, dan memang nggak bisa dipungkiri bahwa saat ini nggak bisa untuk tidak memberikan anak gadget, kalau di Jerman, mereka di sekolah nggak megang gadget, lebih banyak main ke taman, beda sama di Indonesia. Kita nggak bisa bilang nggak karena teman-temannya dari umur 8 sampai 9 tahun udah punya hp sendiri. Ya ini memang sebuah tugas buat kita semua buat kita mengedukasi dan harus memantau banget anak-anak kita mulai dari apa yang anak-anak lihat dan lakukan," papar Sandhy Sandoro.

4. Berkumpul Untuk Diskusi Cari Solusi

Oleh sebab itu Ira Maya Sopha dan Sandhy Sondoro berkumpul untuk berdiskusi, mencari solusi terbaik demi merancang sebuah gerakan untuk melanjutkan visi misi terbaik bagi Lagu Anak Indonesia, melalui LOMBA CIPTA LAGU ANAK, sebagai titik tolak usaha membangun dan menegakkan kembali Industi Musik Indonesia khususnya Lagu Anak.