Laras Sekar: Dulu Dianggap Remeh, Kini Berkarir Internasional & Tinggal di Paris

Helmi Romadhon | 22 Agustus 2017, 14:08 WIB
Laras Sekar: Dulu Dianggap Remeh, Kini Berkarir Internasional & Tinggal di Paris

Kapanlagi.com - Berbicara soal model Indonesia yang mulai menapakkan karirnya di dunia, mungkin yang selama ini mungkin terlintas adalah Fahrani, Mariana Renata, Kelly Tandiono dan beberapa lainnya. Tapi selain nama-nama tersebut, ada seorang model asal Balikpapan yang kini sedang naik daun, Laras Sekar Arum.

Laras merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara yang lahir dan besar di Balikpapan. Dari gadis kecil, Laras kini menjelma jadi model yang telah menandatangani kontrak dengan agency top dunia, Ford Models dan tampil di pagelaran fashion show dunia.

"I am a simple girl, who is hungry to see the world. I love learning many new things, and hopefully the things I learn will make me wiser when I am older," kata Laras soal pribadinya.

Laras Sekar, model berdarah Jawa yang kini go internasional © Instagram.com/larasekarLaras Sekar, model berdarah Jawa yang kini go internasional © Instagram.com/larasekar

KapanLagi.com® berkesempatan untuk mengulik seputar kehidupannya. Mulai dari perjuangan awalnya terjun ke dunia modeling hingga rencana ke depannya.

"I've never dream to a be model. Waktu aku SMA bertemu dengan orang yang bernama Benk Benk. Dia yang mengenalkan aku tentang dunia model dan dari situ aku mulai tertarik dan ingin mencoba hal baru, butuh waktu untuk meyakinkan kedua orang tua untuk aku memilih menjadi seorang model setelah lulus SMA, sampai akhirnya mereka mengizinkan," cerita Laras tentang awal karirnya.

Setelah lulus SMA, Laras kemudian merantau ke Jakarta untuk lebih melebarkan karirnya. Selama di Ibu Kota, wanita berdarah Jawa ini mengalami banyak tantangan, penolakan, serta dianggap remeh, hingga akhirnya ia menemukan agency yang tepat, Native Models.

Penampilan Laras di majalah  Grazia Indonesia pada Oktober 2015 © Grazia IndonesiaPenampilan Laras di majalah Grazia Indonesia pada Oktober 2015 © Grazia Indonesia

"Dunia modeling itu keras banget. Persaingan ketat di setiap season baru pasti akan selalu ada new faces yang lebih bagus dan bagus lagi. Untuk perlakuan tidak enak itu lebih aku rasain di Indonesia waktu awal memulai karir di mana setiap aku melakukan casting mereka melihat aku model yang terlalu kurus atau petit," ungkapnya.

Laras juga mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan terkait dengan warna kulitnya yang cenderung kecoklatan. "Aku tidak pernah melakukan diet, dan ditambah wajah Indonesia dan warna kulit gelapku mereka lumayan susah menerimanya. Ya, tapi itu wajar tidak semua orang akan selalu suka dengan kita," lanjutnya.

Laras juga sering dianggap remeh karena warna kulitnya © Instagram.com/larasekarLaras juga sering dianggap remeh karena warna kulitnya © Instagram.com/larasekar

Asam garam terjun ke dunia modeling sudah ia pernah rasakan selama beberapa tahun ini. Ia kini sudah mulai bisa membuktikan apa yang dianggap orang lain sebagai 'kekurangan', justru jadi 'senjata pamungkas' baginya untuk melenggang ke kancah Internasional dengan bergabung dalam agency Ford Models sejak September lalu.

Laras dikontrak oleh Ford Models sejak September tahun lalu © Instagram.com/larasekarLaras dikontrak oleh Ford Models sejak September tahun lalu © Instagram.com/larasekar

"Aku merasa sangat beruntung bisa diberi kesempatan untuk bekerja dengan orang hebat yang bisa aku jadikan pelajaran. Semua berawal dari bergabungnya aku di agency Native Models saat aku mengupload foto-foto polaroidku di Instagram. Sehari setelah itu, aku mendapat email dari Ford Paris. Awalnya mereka tertarik, dan dari situ mereka menawarkan untuk pergi ke Paris. Now I signed the contract with Ford Paris! Life is crazy," cerita Laras.

Saat ini Laras juga sudah masuk dalam agency Ford New York serta Storm Management bersama Karolina Kurkova, Anna Ewrs, Valery Kaufman, Sui He, Behati Prinsloo, Ayu Gani, dan beberapa top model lainnya. Untuk melancarkan karirnya, Laras kini tinggal di Paris.

Di Paris pun, Laras juga mengalami tantangan tersendiri. Ia harus menyesuaikan dengan pola kerja di sana yang harus serba cepat. Dimulai dari casting dengan model dari seluruh dunia, siap akan penolakan, dan harus tetap berusaha.

Laras juga masuk dalam agency Storm Management © Storm ManagementLaras juga masuk dalam agency Storm Management © Storm Management

"Sejauh ini semua berjalan lancar dan menyenangkan, aku malah jadi tertarik untuk tahu lebih dari budaya-budaya mereka. Untuk kesulitan sendiri aku rasa semua mengalami kesulitan karena semua model dari seluruh dunia dituntut untuk bisa Berbahasa Inggris, dan not all of them can speak English. Tapi jika kita bisa menggunakan bahasa dari negara lain itu adalah sebuah nilai plus. Kesulitan ini bisa aku jalani, karena sewaktu sekolah mendapatkan kelas Bahasa Inggris," cerita Laras soal kehidupannya di Paris.

Tak hanya sampai di situ, Laras juga dituntut untuk bisa beradaptasi dengan industri fashion yang sudah jauh berubah. Di mana kini semakin banyak menunjuk artis populer, atau selebgram dengan follower banyak sebagai model. Namun bagi Laras, kondisi tersebut dirasa wajar.

Sudah banyak pencapaian yang sudah berhasil ia lakukan sejauh ini. Mulai dari pekerjaan pertamanya di Paris, yaitu Makeup Commercial (TVC) untuk L'oreal Paris, muncul di majalah Vogue India, Vogue Amerika, sampai berlenggak lenggok di atas catwalk untuk YSL di Paris Fashion Week Maret lalu.

Penampilan Laras di Vogue India © Vogue IndiaPenampilan Laras di Vogue India © Vogue India

"Job pertamaku di Paris adalah L'oreal Paris Makeup Commercial (TVC). Exciting banget, karena aku berkesempatan untuk bertemu dengan orang-orang penting di industri ini dan supermodel dari ambasador L'oreal (Lara stone, Natasha Polly, Barbara Palvin, Maria Borges, Ju Xiao Wen, dll)," ceritanya.

Untuk ke depannya, Laras masih ingin mengembangkan potensinya di dunia modeling. "Aku ingin fokus dengan apa yang aku jalani sekarang. Keep on track. Harapan dan impianku untuk ke depannya tetap produktif dan kreatif di mana pun aku berada," pungkasnya.

(kpl/mhr)

Editor:  

Helmi Romadhon