Nunung dan Sederet Selebriti Terjerat Narkoba Sabu, Mengapa Barang Ini Laris Manis?

Mahardi Eka Putra | Sabtu, 20 Juli 2019 12:05 WIB
Nunung dan Sederet Selebriti Terjerat Narkoba Sabu, Mengapa Barang Ini Laris Manis?

Kapanlagi.com - Nunung terbukti positif menggunakan narkoba jenis sabu, Jumat (19/07). Ia ditangkap polisi bersama suaminya, Iyan Sambiran. Keduanya dan seseorang yang diduga memasok sabu untuk mereka ditangkap sekitar pukul 12.30 WIB di Jalan Tebet Timur III I, Jakarta Selatan. Dalam penangkapan tersebut disita pula barang bukti berupa 1 unit ponsel beserta uang senilai Rp 3,7 juta.

Tidak sedikit selebriti yang diketahui menggunakan sabu, seperti Jennifer Dunn dan Roro Fitria. Narkoba jenis sabu ini tercatat paling sering dikonsumsi oleh selebritis. Apa yang membuat sabu menjadi laris manis? 

Menurut pengakuan tiga mantan pecandu sabu-sabu kepada Liputan 6 tahun 2016, ada beberapa faktor yang membuat sabu begitu laris manis. Simak rangkumannya berikut ini. 

 

 

1 dari 8 halaman

1. Cara Pemakaian Sabu Butuh Keterampilan Khusus

Cara membuat perangkat sabu tergolong sulit. Lain halnya dengan ganja yang bisa dilinting atau ekstasi yang bisa langsung dikonsumsi, proses pembuatan alat isap sabu membutuhkan keterampilan khusus. Tidak hanya 'bong', korek pun harus dimodifikasi supaya apinya kecil dan berwarna biru.

Cara pemakaian juga tidak kalah rumit. Teknik pembakaran harus sangat hati-hati sehingga cangklong tidak gosong. Seorang pengguna kerap merasa bangga apabila bisa mengatur napas mereka dengan baik. Ini dikarenakan mereka menemukan kenikmatan yang maksimal ketika mampu "menarik" atau mengisap dalam kurun waktu yang cukup lama dan dengan ritme napas yang konsisten.

Salah satu mantan pecandu menyebut bahwa ada kebanggaan tersendiri ketika berhasil menggunakan alat sabu. "Memang dulu ada kebanggaan tersendiri saat berhasil buat alat sabu menggunakan metode yang enggak simple dan enggak semua orang bisa contoh atau lakukan," ujarnya. 

 

2 dari 8 halaman

2. Efek Sabu-Sabu Berdurasi Panjang

Durasi efek sabu-sabu tergolong lama dan mungkin yang paling panjang di antara lainnya. Satu atau dua isap saja mampu membuat seseorang terjaga lima hingga delapan jam. Untuk pengguna di kota-kota besar, ini merupakan suatu kelebihan untuk membantu mereka agar selalu aktif bekerja, bersosialisasi, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.

Karakter perkotaan yang begitu sibuk membuat orang-orang di dalamnya termotivasi untuk menjadi sibuk juga. Namun sayangnya, beberapa orang memilih menggunakan sabu untuk tetap sibuk dan menjadi bagian dari masyarakat yang aktif.

"Pada saat lagi aktif-aktifnya kerja dan jadi pengguna barang ini serasa berguna banget untuk memastikan otak gue jalan lancar saat menciptakan ide dan sigap terus selama sesi diskusi," cerita narsum. Sementara narasumber yang lain mengatakan sabu tidak berdampak pada kemampuan berpikir saja, tapi juga pada tenaga.

"Pekerjaan gue memang bukan typical yang menguras pikiran, tapi lebih ke pengurasan tenaga. Nah, waktu dulu gue memang ngeliat-nya bermanfaat banget sabu enggak hanya bikin gue kuat angkat sana-sini tapi kuatnya jadi lebih lama sehingga gue bisa kelar bahkan sebelum jatuh temponya," timpal narsum lainnya. 

3 dari 8 halaman

3. Sabu-Sabu Tidak Beraroma

Asap sabu-sabu tidak memiliki aroma yang khas. Kalau pun ada yang bisa mencium baunya, mereka kerap mendeskripsikan aroma tersebut mirip dengan batere yang sedang meleleh. Tapi kebanyakan mengatakan bahwa mereka tidak bisa mendeteksi aromanya.

 

4 dari 8 halaman

4. Sabu Membuat Seseorang Merasa Lebih Percaya Diri

Ada sejumlah narkoba yang mampu membuat seseorang keluar dari zona nyamannya. Namun sabu dinilai memberikan kadar kepercayaan diri yang pas, tidak berlebihan. Kepercayaan diri yang diberikan kokain cenderung lebih agresif, kerap memotivasi penggunanya untuk melampiaskan amarah atau melibatkan diri dalam suatu perkelahian.

Pengguna sabu-sabu biasanya saat lagi "on" senang bersosialisasi dan ngobrol. Mereka tidak bisa berhenti bicara dan biasanya merasa terlalu positif sehingga memberikan janji-janji pada orang tertentu yang belum tentu bisa ditepati ke depannya.

5 dari 8 halaman

5. Sabu Lebih Terjangkau Harganya Dari Narkoba Jenis Lainnya

Banyak orang mengira sabu-sabu harganya mahal lantas hanya orang berkecukupan yang mampu beli. Pemikiran ini salah. Sabu-sabu dijual dalam bentuk paket. Memang untuk 1 gram harga berkisar dari Rp1,6 hingga Rp2 juta. Namun sabu-sabu juga tersedia dalam paket seperempat dengan harga Rp400-450 ribu dan setengah Rp750-800 ribu.

Bahkan beberapa tahun terakhir ini para penjual sudah mulai mempermudah pengguna untuk membelinya dengan menjual paket senilai Rp100-200 ribu. Hal seperti ini justru yang tidak bisa dilakukan dalam proses penjualan narkoba jenis kokain.

6 dari 8 halaman

6. Pemakai Sabu Tetap Bisa Beraktivitas Normal

Narkoba kerap diasosiasikan dengan kondisi tubuh dan pikiran manusia yang tidak sadar atau menyatu dengan realita. Namun, berbeda dengan ekstasi atau ganja yang penggunanya bisa berhalusinasi dan melakukan sesuatu di luar kesadaran diri, sabu-sabu menurut mantan pengguna justru membuat mereka lebih peka dan menyatu dengan realita. Hanya saja mereka menjadi lebih aktif dari biasanya.

 

7 dari 8 halaman

7. Sabu Bisa Bikin Langsing?

Salah satu efek sabu-sabu adalah turunnya nafsu makan. Ini menjadi alasan mendasar yang membuat jumlah pengguna wanita kian bertambah di Tanah Air. Namun, ketiga narsum sepakat bahwa sabu tidak sekadar bikin langsing. Alih-alih, sabu membuat penampilan seseorang menjadi kurus dengan drastis dan terlihat kurus kering. 
8 dari 8 halaman

8. Tidak Cukup Pakai Sekali

Sabu-sabu tergolong sebagai narkoba jenis adiktif. Kelasnya pun setara dengan heroin, morfin, dan "putaw". Sabu kerap membuat penggunanya terus-menerus merasa ingin memakainya. Disebut narasumber, sabu membuat penggunannya merasakan keinginan setara rasa lapar dan haus digabungkan. 

(lip/dka)


Editor:  

Mahardi Eka Putra

↑