Pageant Lovers, Tim Sukses di Balik Gemerlap Mahkota Kontes Kecantikan

Tyssa Madelina | 27 Februari 2018, 13:30 WIB
Pageant Lovers, Tim Sukses di Balik Gemerlap Mahkota Kontes Kecantikan

Kapanlagi.com - Brain, beauty, behaviour. Tiga kata yang cukup awam dalam mendeskripsikan apa dan bagaimana syarat mutlak untuk mewakili Indonesia di kancah beauty pageant. Tiap tahunnya, para perwakilan dari setiap daerah akan berkompetisi dalam sebuah ajang bergengsi, sebut saja Puteri Indonesia dan Miss Indonesia. Meski tampak berbeda, namun kedua kontes kecantikan ini memiliki kemiripan. Yakni sama-sama mencari wanita cantik dan cerdas untuk mewakili Indonesia melenggang di kancah internasional.

Tak banyak yang tahu, ajang beauty pageant tak ubahnya seperti Pemilihan Kepala Daerah. Membutuhkan dana sponsor, suporter serta tim sukses. Kesuksesan dan kemenangan kontestan tak lepas dari dukungan orang-orang di belakangnya. Bisa dikatakan, team work kuat akan menghasilkan kontestan yang berkualitas. Tak perlu kualifikasi khusus untuk menjadi seorang tim sukses selain kaya akan pengetahuan tentang beauty pageant dan memiliki keahlian komunikasi yang baik.

Lantas, bagaimana awal mula terbentuknya tim kreatif para kontestan kecantikan tersebut? Dan bagaimana para tim bekerja sama untuk mengantarkan para kontestan meraih kesuksesan di ajang internasional?

Sejarah Pageant Lovers di Indonesia

Bunga Jelitha sebagai Puteri Indonesia tahun 2017. © KapanLagi.comBunga Jelitha sebagai Puteri Indonesia tahun 2017. © KapanLagi.com

Menilik ke belakang di era 70-an, wakil dari Indonesia nyatanya sudah melenggang ke ajang dunia saat itu. Meski tak mendapat dukungan penuh dari pemerintah namun ajang Puteri Indonesia telah mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat. Hingga akhirnya di tahun 2004, seorang lelaki bernama Mukie Dardjati Muza terbesit sebuah ide untuk mendirikan website sebagai wadah para pecinta kontes kecantikan bertukar pikiran.

Hal itu dibenarkan oleh salah seorang tim sukses Puteri Indonesia 2017, Bunga Jelitha yang berinisial Y. Menurutnya, Pageant Lovers Indonesia dibentuk dari perbincangan kecil para pecinta kontes kecantikan di dunia maya. Dari forum tersebut, mereka membuat wadah sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi pada para kontestan.

"Awal mulanya ketika Artika Sari Devi bisa melenggang sampai top 15 Miss Universe tahun 2005. Komunitasnya sendiri berawal dari sebuah forum yang bernama Missology dan membahas masalah International Pageant. Dari situ muncul portal beauty pageant Indonesia pertama yang dinamakan Indo Pageant. Berawal dari situ akhirnya berkembang dan muncul beberapa fans page di Instagram," ungkapnya, saat dihubungi oleh tim KapanLagi.com®, Minggu (25/02/2018).

Bermula dari membahas seputar kontes kecantikan, komunitas tersebut akhirnya berkembang dengan membentuk fans base untuk para kontestan. Para simpatisan ini tak ubahnya seperti tim sukses yang bekerja untuk memberi dukungan, fasilitas sampai kritikan. Bisa dikatakan, kesuksesan seorang kontestan di ajang kecantikan dunia tak bisa lepas dari peran besar tim sukses di belakangnya.

Namun hanya segelintir yang tahu bahwa seorang simpatisan ternyata tak hanya menyumbang sorak sorai dan dukungan di media sosial. Faktanya, mereka harus siap menyumbang sebagian besar waktu dan pikiran mereka untuk mempersiapkan para calon di kancah internasional.

Stereotype Negatif Beauty Pageant dan Sisi Lainnya

Kontes kecantikan kerap dirundung anggapan negatif dari netizen. © KapanLagi.comKontes kecantikan kerap dirundung anggapan negatif dari netizen. © KapanLagi.com

Tak sedikit orang yang memandang miring beauty pageant. Menganggap para wanita yang belenggak-lenggok di atas panggung megah tak lebih dari sekedar pamer kecantikan semata. Namun, stereotype itu terbantahkan ketika mengetahui sisi lain di balik perjuangan mereka.

Meraih kemenangan tak semudah membalikkan telapak tangan. Begitupun dengan mempertahankan fans pendukungnya. Menurut Y, seorang kontestan yang berhasil melaju sampai ajang internasional tak hanya memiliki brain, beauty dan behaviour. Namun juga personal branding yang kuat untuk mempertahankan penggemarnya.

"Jadi, ajang kontes kecantikan itu persis seperti Pilkada. Semisal kamu menang dan siap dikirim ke kancah internasional, yayasan yang menaungi hanya memberi fasilitas berupa pendaftaran, pembekalan dan tetek bengek lain. Untuk wardrobe dan branding, kontestan dibantu sama tim sukses atau simpatisan yang dukung dia tadi. Tapi semua itu tetap di bawah pengawasan dan persetujuan dari yayasan," lanjutnya.

Y menuturkan, agar mendapat hasil yang maksimal, para tim harus memutar otak dalam segala hal. Mulai dari arrangement photoshoot sampai konsep branding. Tentu saja hal tersebut dibutuhkan untuk meraup lebih banyak penggemar sebelum kompetisi tingkat internasional dimulai.

"Beauty pageant dan model itu beda ya. Meskipun rata-rata yang ikut beauty pageant adalah jebolan kelas modelling tapi untuk melenggang ke kontes internasional nggak cuma butuh skill di catwalk aja. Fans pasti bosan kalau kontestan cuma bisa itu-itu aja. Makanya itu, mereka harus punya konsep branding sendiri, keunikannya apa, menguasai make up skill sama komunikasi, itu juga penting," tuturnya.

Dari Gaun Sampai Branding, Jadi Simpatisan Itu Berat!

Tim sukses kontestan harus memikirkan secara matang konsep branding sampai gaun. © KapanLagi.comTim sukses kontestan harus memikirkan secara matang konsep branding sampai gaun. © KapanLagi.com

Selama ini mungkin orang mengira bahwa menjadi simpatisan atau tim sukses beauty pageant adalah suatu langkah yang mudah. Membayangkan diri bertemu dan bertatap langsung dengan sang jawara tentu jadi kebanggaan tersendiri. Namun tentu saja, ada suka duka yang harus dilalui, terutama menyangkut persiapan suatu calon.

Seperti halnya yang diungkapkan oleh Y. Di tengah kesibukannya beraktifitas sebagai pekerja swasta, Y harus rela meluangkan tenaga dan pikiran untuk membantu tim sukses Bunga Jelitha. Melenggangnya Bunga ke kancah Miss Universe tentu membutuhkan banyak persiapan, mulai dari hal kecil sampai krusial.

"Kalau ngabisin waktu kayaknya enggak ya karena koordinasi biasa hanya di grup WhatsApp dan sesekali ketemuan. Mungkin lebih ke pikiran dan tenaga. Aku juga nggak kerja sendiri, pasti lah dibantu sama teman-teman. Kerjaanku di bagian caption media sosial, mikirin apa yang bisa bikin kontestan viral. Biar netizen notice progress dia seperti apa," tambahnya.

Menurut pengakuan Y, tim sukses kontestan sendiri tak hanya terdiri dari segelintir orang namun terbagi menjadi berbagai job desc. Tiap orang tersebut memiliki keahlian masing-masing dalam mengurus suatu divisi.

"Sebenarnya tim kita itu banyak. Jadi tim-nya ada yang dari Ivan Gunawan serta asisten khusus mengurus masalah wardrobe, desain evening gown, make up. Kalau di tim media sosial, ada yang tugasnya bikin caption, branding dan ide. Masing-masing sudah ada job desc-nya sendiri," ujar Y.

Kerap Kerja Bareng, Simpatisan Lebih Tahu Karakter Kontestan Secara Personal

Kerap bertemu, tim sukses bisa kenal secara personal kepribadian dari kontestan. © Instagram/flowerpower_idKerap bertemu, tim sukses bisa kenal secara personal kepribadian dari kontestan. © Instagram/flowerpower_id

Tak hanya kerja bareng, menjadi seorang simpatisan tentu bisa dapat banyak kesempatan untuk lebih mengenal sosok kontestan secara mendalam. Tak hanya hang out bareng, mereka juga kerap ngobrol bersama membahas masalah personal.

Menurut penuturan Y, meski terlihat sempurna dan bijaksana, kontestan beauty pageant tak ubahnya seperti manusia biasa. Pernah merasa resah dan galau. Terlebih ketika harus berhadapan dengan ulah netizen.

"Bunga sendiri tipenya orang yang agak pemikir. Jadi dia selalu mengusahakan untuk membalas semua DM dan comment yang masuk di Instagram. Waktu dapat komentar 'Kak Bunga kok sombong sih', dia sering kepikiran 'Ini aku sombongnya gimana ya? Aku kurang ramah ya?' Tapi kalau udah dapat hate comments, dia selalu berusaha untuk mengabaikan atau kalau balas ya sewajarnya aja," ungkap Y.

Sukses maupun gagal, tim sukses Bunga selalu mendukung langkah wanita cantik ini untuk terus berkarir ke depannya. © Instagram/flowerpower_idSukses maupun gagal, tim sukses Bunga selalu mendukung langkah wanita cantik ini untuk terus berkarir ke depannya. © Instagram/flowerpower_id

Kegagalan Bunga saat melaju di Miss Universe 2017 lalu memang sempat membuat wanita cantik tersebut down. Terlebih ujaran kebencian dari haters semakin menjadi-jadi menyerbunya. Namun kehadiran para tim sukses dan pendukung di sisinya membuat Bunga berhasil bangkit kembali.

Begitu pun yang dirasakan oleh Y selaku tim sukses. Lelah yang terbuang tak lantas jadi sia-sia karena para simpatisan ini sejatinya adalah orang-orang yang tahu betul seluk beluk dan mendalami masalah beauty pageant. Tak butuh imbalan, para tim sukses ini layaknya pahlawan yang siap mendukung dan membela calon kontestan sampai meraih kesuksesan.

"Kerja bersama Bunga itu fun, karena basic-nya Bunga orang yang asyik dan nggak rese. Menurutku kegagalan kemarin justru jadi pacuan Bunga buat membuktikan bahwa dia bisa jadi yang lebih baik ke depannya. Kita (tim sukses) di sini juga akan selalu siap membantu dan support Bunga," pungkasnya.

Well, ternyata keberadaan tim sukses di balik calon kontestan beauty pageant sedikit mengingatkan kita akan sebuah kutipan, bahwa ada orang-orang penting yang ikut mendukung dan membantu kesuksesan seseorang. Meski beberapa dari kamu belum pernah mendengar atau terlibat dalam komunitas Pageant Lovers, paling nggak dari mereka kamu bisa belajar arti loyalitas yang sesungguhnya.

(kpl/tmd)

Editor:  

Tyssa Madelina