Para Korban Mengadu Telah Ditipu Berkedok CPNS Oleh Olivia Nathania, Begini Respon Nia Daniaty

Senin, 27 September 2021 07:47 WIB
Para Korban Mengadu Telah Ditipu Berkedok CPNS Oleh Olivia Nathania, Begini Respon Nia Daniaty
penipuan CPNS anak Nia Daniaty © KapanLagi.com/Bayu Herdianto

Kapanlagi.com - Agustin, perempuan yang mengaku korban pertama penipuan dengan kedok jabatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Olivia Nathania, sempat mengadu ke Nia Daniaty. Akan tetapi, beberapa kali usahanya itu tak membuahkan hasil.

Pada akhirnya, Agustin pun memutuskan untuk menemui Nia Daniaty di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, dan menyampaikan kelakuan sang anak. Akan tetapi, Nia Daniaty pun saat itu merespons dengan menyebut Olivia sudah punya kehidupannya sendiri.

"Kami sudah baik-baik, terus Nia menjawab 'bu Titin maaf, Oliv itu sudah menikah, sudah bukan tanggung jawab saya ini,' itu jawaban dari bu Nia," ungkap Agustin saat di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (25/9).

1. Gagal Bertemu

Agustin sendiri menegaskan bahwa ia hanya ingin Nia menjadi penjembatannya karena Olivia menghilang. Namun, Mantan Istri Farhat Abas itu juga tidak bisa berbuat apa-apa dan cuma bisa menjanjikan pertemuan, yang di mana pertemuan tersebut juga akhirnya gagal terlaksana dan berujung kontak dengan kuasa hukum.

"Bu Nia (ngomong) 'baik bu, karena dia (Oli) tidak satu rumah dengan saya, saya coba telepon nanti saya hubungi'," ucapnya.

"Saya minta maaf sekali lagi dengan bu Nia, saya pulang, dan kebesokan harinya saya dateng ke rumah beliau ternyata rumah kosong dijaga tiga orang Ambon," tukasnya.

2. Penipuan Berkedok CPNS

Diketahui anak Nia Daniati, Olivia Nathania, bersama suami Rafly N Tilaar, dipolisikan karena disebut lakukan iming-iming lulus jadi PNS kepada 225 orang dengan total Rp 9,7 M. Laporan terhadap Anak Nia Daniati itu kini tercatat dengan nomor pelaporan STTLP/B/4728/IX/2021/SPKT/POLDA METRO JAYA, tertanggal 24 September 2021.

Baik Oi dan RAF, dilaporkan dengan dugaan pelanggaran Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP dan atau 263 KHUP tentang penipuan, penggelapan dan pemalsuan surat-surat.