Pelawak Qomar Tersandung Kasus Pemalsuan SKL, Begini Kronologinya

Tyssa Madelina | Selasa, 27 Agustus 2019 21:10 WIB
Pelawak Qomar Tersandung Kasus Pemalsuan SKL, Begini Kronologinya

Kapanlagi.com - Pelawak senior Nurul Qomar alias Qomar beberapa waktu lalu sempat tersandung masalah terkait Surat Keterangan Lulus S3. Saat itu Qomar dihadapkan sebuah masalah mengenai SKL yang ia gunakan saat mencalonkan diri menjadi Rektor Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes, Jawa Tengah, tahun 2017 lalu.

SKL S3 itu diduga dipalsukan Qomar dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), untuk didaftarkan menjadi Rektor UMUS. Saat ditemui di kawasan Pesona Mall, Depok, Jawa Barat, (27/8) Selasa sore, komedian berusia 59 tahun itu pun menceritakan kronologi kasus tersebut. Ia menduga dirinya dilaporkan karena ada oknum-oknum yang tak senang dengannya.

"Jadi begini, Awal 2017 saya diminta menjadi rektor UMUS di Brebes. Saya dihubungi lewat telepon, saya diminta mendaftarkan diri menjadi rektor. Tapi, saat itu, saya sedang mengambil S3 di UNJ dan belum selesai," ungkap Qomar.

1 dari 3 halaman

1. Sempat Tidak Mau Jadi Rektor

Pelawak yang tergabung dalam grup Empat Sekawan itu juga menambahkan kalau dirinya sempat tidak ingin mencalonkan diri menjadi rektor di UMUS waktu itu. Tapi karena dibujuk akhirnya ia pun bersedia lantaran pihak yang menghubunginya memaksa agar dirinya mendaftarkan terlebih dahulu.

"Mindset pak haji, rektor itu doktor kan ya. Padahal saya sedang tunggu sidang terbuka untuk gelar doktor pascasarjana UNJ. Kemudian karena dikatakan demikian ya udah Qomar kesana dan bawa berkas," sambung Qomar.

2 dari 3 halaman

2. Didemo Mahasiswa Gara-Gara Pilkada

Singkat cerita setelah mendaftarkan diri menjadi rektor, pria kelahiran Jakarta, 11 Maret 1960 tersebut awalnya kaget dan seminggu kemudian dirinya dilantik menjadi rektor tanpa verifikasi. Setelah beberapa lama menjabat sebagai seorang rektor, Qomar mengklaim bahwa dirinya telah berhasil menjadi seorang rektor yang baik, terbukti dari dirinya yang banyak disenangi oleh mahasiswanya.

"Satu kampus senang sama Haji Qomar. Setelah beberapa bulan kerja, saya diminta tampil di pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Cirebon, jadi lah mahasiswa demo karena tidak mau saya mengundurkan diri dari UMUS," tambahnya.

Sudah memberikan kemajuan untuk UMUS, Qomar mengatakan ada yang tidak senang dengan prestasinya tersebut selama menjadi rektor. Dari hal itu lah juga dianggap Qomar ada beberapa oknum yang tak mau dirinya maju di pentas politik Pemilihan Legislatif.

3 dari 3 halaman

3. Ditunggangi Oleh Kepentingan Politik

Setelah pelaporan polisi terkait pemalsuan SKL viral, hal tersebut diakui Qomar mulai dikompori oleh beberapa oknum dari pihak pelapor, supaya dirinya tak maju ke panggung DPR RI. Selain itu ia beranggapan bahwa tujuan utama dari para oknum tersebut untuk menjebloskannya ke dalam penjara sudah berhasil ketika ia di suruh beristirahat setelah pemeriksaan. Oleh karena itu, ia menganggap proses hukum yang dihadapi olehnya ditunggangi dengan permasalahan atau dendam politik.

"Sampai akhirnya saya disuruh beristirahat malam hari di penjara. Kemudian foto di dalam penjara yang kemudian viral. Mereka senang. Kondisi ini demi kepentingan politik Cirebon. Saya enggak mau katakan siapa orangnya, tapi yang jelas ada orang yang dendam kepada saya, untuk menenggelamkan saya di politik dan saya sampai sekarang tidak tahu siapa yang buat surat itu," tandas Qomar.

(kpl/apt/tmd)


↑