Rachel Amanda Ajak Pekerja Film Perempuan untuk Lawan Kekerasan Seksual

Dhimas Nugraha | Rabu, 11 Desember 2019 15:15 WIB
Rachel Amanda Ajak Pekerja Film Perempuan untuk Lawan Kekerasan Seksual

Kapanlagi.com - Konsentrasi aktris Rachel Amanda pada isu perempuan rupanya cukup serius. Salah isinya adalah tentang kekerasan seksual. Namun sebelumnya, pemain DUA GARIS BIRU tersebut menunjukkan dinamika yang terjadi di dunia film oleh pekerja perempuan.

"Kalo secara representasi tahun ini pemeran utama perempuan lebih banyak, secara konten cerita perempuan lebih banyak. Tapi sejauh apa, aku rasa itu masih bisa dielaborasiin lagi," jelas Rachel.

"Harusnya bisa muncul karya-karya film dengan isu perempuan yang lebih jarang dibicarakan lagi. Padahal secara pekerja, yang di balik layar banyak. Penulis skenario banyak, produser banyak, sutradara masih sedikit memang tapi minatnya terus bertambah," tambahnya.

 

1 dari 2 halaman

1. Banyak Pekerja Film Perempuan Yang Masih Mengalami Kekerasan Seksual

Beruntungnya, Rachel sendiri tidak pernah punya pengalaman tentang hal yang berbau kekerasan seksual. Meskipun demikian, gadis 24 tahun tersebut menyadari masih ada pekerja film perempuan yang bukan aktor yang mengalaminya.

"Untungnya tidak. Kalo denger cerita dari temen, ada juga aja yang mengalami seperti itu," ujar Rachel Amanda saat acara Summit On Girls di Balai Kartini, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (10-12).

"Tapi kalo pekerja film sendiri, di luar aktor ya. Masih ada yang tidak sadar sudah mengalami pelecehan karena menganggap ketika kita mau survive di suatu industri apalagi kita sebagai pekerja di balik layar, kita harus tough atau kaya preman," sambungnya.

2 dari 2 halaman

2. Ajak Perempuan Melawan Pelecehan Seksual

Mahasiswi Universitas Indonesia jurusan Psikologi ini pun melihat keanehan pada fenomena ini. Terlebih, dirinya mengajak para pekerja film perempuan untuk mau melawan saat terjadi pelecehan seksual tersebut.

"Jadi kalo mau dianggap capable seperti laki-laki, maka bersikaplah seperti laki-laki. Padahal kan ngga perlu kaya gitu," jelas Rachel.

"Beberapa yang aku dengar bahkan, mereka dilecehkan tapi ngga boleh baper, karena nanti kalo baper muncul lah lagi sifat bahwa "oh dia perempuan". Padahal itu kan hak lo, lo ngga mau dilecehin, lo bisa marah untuk tidak dilecehkan. Mau apa pun profesi lo," pungkasnya.

(kpl/apt/DIM)


Editor:  

Dhimas Nugraha

↑