Bosan dengan berita itu-itu saja? Download Aplikasi Liputan6

Reza Rahadian Turut Bantu Bangkitkan Kembali Seniman dan Budayawan di Masa Pandemi Lewat 'Taksu Ubud'

Senin, 05 Juli 2021 20:00 WIB
Reza Rahadian Turut Bantu Bangkitkan Kembali Seniman dan Budayawan di Masa Pandemi Lewat 'Taksu Ubud'
Credit Foto: Titimangsa Foundation

Kapanlagi.com - Bali mungkin selama ini lebih dikenal dengan sektor pariwisatanya yang sudah begitu mendunia. Namun jika sedikit menyelami lebih dalam, Bali sejatinya bukan melulu tentang pantai-pantai atau pulau cantik. Ya, Bali juga dikenal memiliki adat dan tradisi yang amat kuat, hingga punya potensi untuk menjadi daya tarik wisata tersendiri, baik untuk wisatawan dalam dan luar negeri.

Nahas, pandemi yang berkepanjangan memberikan dampak begitu negatif pada sektor kebudayaan Bali. Berbagai pertunjukan seni dan budaya tak lagi tak lagi terlihat di berbagai sudut kota sejak setahun terakhir ini. Walhasil, para seniman dan budayawan pun harus turut berjuang untuk bertahan hidup dengan berbagai cara lain.

Berangkat dari fakta di atas, Titimangsa Foundation yang dibawahi oleh Happy Salma menginisiasi sebuah pementasan bertajuk 'Taksu Ubud' yang berfokus pada ekspresi seniman Ubud dalam menyampaikan perasaannya pada alam dan pencipta. Happy Salma juga turut menggandeng Direktorat Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia untuk bekerja sama.

Now that you are AWAKE, it's time for you to wake right now!

Awake

Pementasan ini juga didukung oleh Deputi Bidang Produk Wisata Dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, ARMA Museum & Resort, ISI Denpasar, Yayasan Bumi Bajra Sandhi, Purnham Event Planner, Antida Music Production, Silubarong CO, Circle Lighting Indonesia, Tarra Healthcare, Suarti, Tulola, Cok Abi, CYN Bali, UBUD Performing Art, Napak Tuju, Swaradanta, dan Yayasan Janahita Mandala Ubud.

1. Sinopsis 'Taksu Ubud'

Gambar

'Taksu Ubud' adalah sebuah pertunjukan seni drama, tari dan musik yang menampilkan Ubud sebagai bagian penting dari wajah Bali melalui kisah yang sederhana. Pertunjukan ini adalah sebuah inisiatif kecil untuk mengadakan kembali ruang bagi sebagian pelaku seni Ubud untuk membangun kembali suasana Ubud yang sarat akan adat dan tradisi Bali.

Ubud adalah benteng pertahanan dalam pelaksanaan adat dan tradisi leluhur masyarakat Bali. Hampir seluruh masyarakat di sana hidup dekat dengan adat dan tradisi. Pada siang hari mereka bekerja sebagai petani, pedagang, hingga pengajar. Lalu malam harinya mereka hidup sebagai pelaku kesenian di Ubud. Pendapatan yang mereka hasilkan dari pekerjaan harian mereka, dikembalikan untuk pengembangan adat.

Pementasan ini menceritakan kisah seorang pemuda Ubud bernama Umbara yang sejak kecil tinggal jauh dari Ubud dan ibunya. Lalu tiba suat saat sang Ibu meminta Umbara untuk pulang ke Ubud. Seketika Umbara pun dihadapkan pada sebuah dilema, karena Ia saat ini sudah hidup dengan sangat nyaman di perantauan. Haruskah Ia meninggalkan semua pencapaiannya demi cintanya pada Ibu dan Ubud tanah kelahiran yang maish asing baginya?

2. Melibatkan Artis Top Seperti Reza Rahadian

Gambar

Selama kurang lebih 4 bulan, karya 'Taksu Ubud' menjadi kerja kolaborasi yang melibatkan banyak pihak, terutama seniman dan budayawan Ubud. Beberapa artis kenamaan yang punya background di dunia teater pun turut terlibat, seperti sebut saja Reza Rahadian dan Christine Hakim.

Sementara itu, ada pula seniman-seniman senior Bali yang telah berkarya puluhan tahun dengan penuh dedikasi pada seni dan pengembangan budaya seperti Agung Oka Dalem dan Cok Sri (seniman tari), Aryani Williems (aktor senior), Desak Nyoman Suarti (seniman motif tradisi) dan Made Sukadana Gender (seniman dalang). Pementasan ini juga menampilkan tarian, tetabuh dan mekidung yang melibatkan banyak kelompok penari dan penabuh, seperti Gamelan Yuganada, Yayasan Bumi Bajra Sandhi, Kertha Art Performance, Sanggar Cudamani, Ubud Performing Art, Napak Tuju, Swaradanta dan Yayasan Janahita Mandala Ubud.

3. Testimoni Happy Salma Hingga Sutradara

Gambar

Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia menjelaskan dengan melakukan kesenian, masyarakat Ubud berhubungan dengan Tuhannya dan membina hubungan baik juga dengan sesama manusia. Adat dan tradisi masyarakat Ubud ini yang juga menarik wisatawan lokal dan dunia untuk datang ke Ubud dan melihat serta merasakan taksu-nya Ubud.

"Berkesenian bagi masyarakat Bali, khususnya Ubud, bukan hanya menjadi kerja kebudayaan, tetapi juga berlaku sebagai ibadah kepada Tuhannya, sebuah identitas diri dan masyarakat, serta pengejawantahan dari taksu, jiwa masyarakat Ubud itu sendiri," ungkap Hilmar.

Happy Salma yang bertindak sebagai produser bagi pementasan ini menjelaskan bahwa Taksu Ubud' terinspirasi dari alam, gerak, tutur dan rasa ikhlas yang tidak berputus asa dari teman-teman di Bali, khususnya Ubud yang memang dekat di hatinya secara pribadi.

"Poin paling utama dalam proses kali ini adalah menyatukan energi kerja kolaborasi. Rasa yang menurut saya perlu dimiliki dalam situasi serba sulit seperti sekarang ini. Menyatukan perasaan kebersamaan dengan penuh tanggung jawab dan menghadirkan energi optimisme dan rasa saling mendukung untuk sebuah kerja kreatif yang datangnya dari hati karena bakti dan kecintaan pada seni, adat dan tradisi," jelas Happy.

Ida Ayu Wayan Arya Satyani atau lebih dikenal dengan Dayu Ani, sebagai Sutradara Gerak mengungkapkan, pemetasan ini merupakan karya unik dan menantang dikarenakan buah kerja kolaborasi.

"Kita tidak menempatkan salah satu elemen sebagai penunjang elemen yang lainnya. Semua posisinya sama penting, ya musik, ya koreografi, ya teatrikalnya, ya setting-nya, dan lain-lain. Tapi saya yakin, karya yang didedikasikan sebagai sebuah persembahan/doa/jantra/mantram, getaran itu jauh lebih penting daripada pemahaman. Pemahaman akan menyusul kemudian," jelas Dayu.

Sutradara Tabuh, I Wayan Sudirana, sependapat, bahwa proses pengerjaan komposisi pementasan menantang dan sekaligus menyenangkan ketika menyesuaikan dengan tema dan konsep yang tumbuh karena proses bersama.

"Contohnya seperti nomor musik 'Orkestra Semesta' yang menjadi pembuka pentas. Komposisinya memang panjang secara durasi karena di dalamnya ada siklus nada di sembilan arah mata angin. Bayangan saya langsung mengarah pada nada-nada semesta, bagaimana nada-nada tersebut berada pada titik kardinalnya dan berinteraksi dengan nada-nada yang lain," ungkap Sudi panggilan akrabnya.

Pentas 'Taksu Ubud' telah direkam beberapa waktu lalu bertempat di Arma Museum, Ubud sebagai tuan rumah. Masyarakat dapat menikmati pementasan 'Taksu Ubud' secara daring yang ditayangkan perdana pada Selasa, 6 Juli 2021 pukul 19.00 WIB di kanal Youtube Budaya Saya. 'Taksu Ubud' juga dapat disaksikan secara bebas selama satu minggu hingga tanggal 12 Juli 2021 mendatang.