Rhoma Irama Sang Raja Dangdut

Rhoma Irama, Satria Yang Tak Pernah Lepas Dari Gitar

Darmadi Sasongko | 01 September 2014, 16:31 WIB
Rhoma Irama, Satria Yang Tak Pernah Lepas Dari Gitar
Kapanlagi.com - Rhoma atau Oma kecil dikenal sebagai anak periang yang kerab berdendang. Lingkungan keluarga, membuat bakatnya semakin terpupuk. Sehari-hari, dia menyaksikan ayahnya, Raden Burdah Anggawirya yang mahir bermain suling dan mendendangkan lagu Ciganjuran. Kemudian, pamannya, Arifin Ganda, juga memperkenalkan lagu-lagu Jepang.

Kelas 2 Sekolah Dasar (SD), Rhoma sudah mengenal, bahkan hapal dengan lagu No Other Love milik Richard Rodgers. Dia juga mampu melantunkan lagu India, Mera Bilye Buchariajaya milik Lata Mangeskhar yang merupakan lagu kesukaan ibunya, Tuty Djuariyah. Dia juga menyimak penyanyi Timur Tengah, seperti Umi Kaltsum.

Bakat bernyanyi Rhoma juga didukung sikap percaya dirinya yang melebihi teman-teman seusianya saat itu. Dia tidak malu menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Bahkan ketika berdendang, dia begitu menghayati syair lagu yang dinyanyikan. Sambil memejamkan mata, dia menggoyang-goyangkan kepala dan tangannya.

Kendati tumbuh dalam suasana keluarga yang 'melek' musik, bukan berarti Rhoma mendapat dukungan untuk menjadi musisi. Dunia seniman saat itu sama sekali tidak menjanjikan masa depan, sehingga Rhoma dituntut untuk mengejar cita-citanya sebagai hakim, dokter atau entah apalah. Bahkan cita-cita menjadi seniman juga tidak pernah terbayangkan.

Lagu berjudul Pedih seperti menjadi curahan hati Rhoma atas relasi hidupnya dengan musik saat itu. Dia dianggap salah, bahkan tidak pernah punya manfaat karena musiknya, dalam hal ini bermain gitar.

Apakah aku bersalah bila ku cinta seni/ Apakah aku berdosa bila aku menyanyi/ Kalau tiada salah, kalau tiada dosa Mengapa ku dicegah

Apakah aku bersalah bila ku cinta seni/ Apakah aku berdosa bila aku menyanyi

Rumah yang seindah istana Terasakan bagai neraka/ Seisi rumahku membenci Diriku yang mengabdi seni

Betapa hati pedih sekali/ Betapa pedih sekali

Tapi Rhoma sepertinya tidak pernah bisa dipisahkan dari gitar, alat musik yang terus dicoba untuk dikuasainya sejak usia remaja, bahkan anak-anak. Kesehariannya tidak pernah lepas dari gitar, yang seolah sudah menjadi senjata. Dia punya banyak kisah tentang senjata pamungkasnya itu hingga salah satunya bergelar 'Satria Bergitar'.

Rhoma pernah teledor karena terlalu asyik bermain gitar, hingga lengah menunggui adiknya yang masih bayi. Saat itulah gitar kesayangannya menjadi sasaran kemarahan ibunya, dilemparkan ke batang pohon hingga hancur.

Suatu saat dia juga pernah melompat lewat cendela sekolahan hanya karena ingin bergabung dengan teman-temannya latihan bermusik. Dia yang saat itu duduk di bangku SMA, mencuri kesempatan saat gurunya sedang menghadap papan tulis. Teman-temannya yang menumpang truk sampah, memberi kode pada Rhoma agar melompat lewat samping sekolah.

Saat SMA juga, Rhoma pernah berniat berguru ke Pesantren Tebuireng, Jombang. Dia nekat naik kereta api tanpa membeli karcis dengan menyamar sebagai pengamen. Namun gagal sampai di tujuan, di stasiun Solo, Rhoma diturunkan paksa.

Solo akhirnya menjadi bagian dari sejarah Rhoma. Dia sempat melanjutkan sekolah di SMA St Joseph, Solo, kendati hanya beberapa bulan saja. Pengembaraannya selalu bersama gitar.

(kpl/dar)

Editor:  

Darmadi Sasongko