Roy Marten Dituntut Hukuman 3,5 Tahun Penjara

Anton | 01 April 2008, 19:41 WIB
Kapanlagi.com - Aktor kawakan era tahun 1970-an Roy Marten alias Roy Wicaksono (56 tahun) akhirnya dituntut tiga tahun enam bulan dalam sidang pembacaan tuntutan untuk terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (1/4).

Dalam sidang yang dipimpin majelis hakim Berlin Damanik, SH itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga menuntut terdakwa membayar denda Rp10 juta, membayar biaya perkara Rp5.000, dan barang-barangnya disita sebagai barang bukti yakni dua handphone dan seperangkat alat hisap.

"Tuntutan 3,5 tahun itu mempertimbangkan terdakwa yang tidak terbukti dalam dakwaan primer (menyalurkan), namun terbukti dalam dakwaan subsider (bersekongkol menggunakan)," kata anggota JPU Muhaji SH.

Dakwaan JPU untuk Roy Marten dibuat berlapis, yakni dakwaan primer terkait pelanggaran pasal 71 ayat (1) jo pasal 60 ayat (2) UU 5/1997 tentang Psikotropika (bersekongkol menyalurkan).

Untuk dakwaan subsidair terkait pasal 71 ayat (1) jo pasal 62 UU 5/1997 (bersekongkol memiliki/menyimpan), dan dakwaan lebih subsidair terkait pasal 65 UU 5/1997 (tidak melaporkan penyalahgunaan psikotropika).

"Dakwaan primer tidak dapat dibuktikan, tapi dakwaan subsidair terbukti, karena saksi Didit mengaku menghisap SS bersama terdakwa dan saksi Hong Kho Hong, kemudian saksi Freddy juga mengaku menghisap SS bersama terdakwa," katanya.

Bahkan, katanya, Freddy menyebut terdakwa memegang alat hisap yang sudah ada SS-nya, kemudian menyedotnya dengan mulutnya. "Hasil tes urine juga terbukti bahwa terdakwa menggunakan Amphetamine A," katanya.

Tentang pertimbangan atas tuntutan 3,5 tahun itu, ia mengatakan, pertimbangan yang memberatkan adalah terdakwa pernah dipenjara di LP Cipinang dan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan narkotika yang merusak generasi penerus bangsa.

"Pertimbangan yang meringankan tuntutan adalah terdakwa berlaku sopan dalam persidangan dan terdakwa memiliki tanggungan keluarga," katanya.

Oleh karena itu, ia menuntut terdakwa dengan pidana penjara tiga tahun enam bulan yang dikurangi masa tahanan, denda Rp10 juta, dan barang miliknya disita yakni dua handphone dan seperangkat alat hisap.

Setelah pembacaan tuntutan itu, majelis hakim memberi kesempatan kepada pengacara terdakwa untuk menyampaikan pembelaan dalam sepekan mendatang.

Menanggapi hal itu, pengacara terdakwa Sunarno Edi Wibowo SH MH usai persidangan menilai kesaksian dari saksi mahkota (saksi yang merangkap terdakwa) tidak dapat dijadikan dasar untuk menuntut terdakwa.

"Saksi Didit Kesit Cahyadi dan saksi Freddy Mattatula itu 'kan terdakwa yang berkasnya dibuat terpisah, karena itu tidak dapat dijadikan patokan untuk menuntut klien kami, kecuali saksi penangkap (polisi)," katanya.

Oleh karena itu, katanya, langkah JPU itu sangat tidak adil, karena hal itu sama halnya dengan membinasakan Roy, padahal pengguna narkoba itu seharusnya dibina dan direhabilitasi, bukan dibinasakan.

"Apalagi, mas Roy sendiri sudah mengakui secara jujur bahwa dia memang masih menggunakan SS, karena itu hasil tes urine-nya positif, tapi dia menggunakan SS itu saat masih di Jakarta, bukan di Surabaya (bersamaan penangkapan," katanya.

Roy Marten diduga terlibat kasus 'pesta' sabu-sabu (SS) di sebuah hotel di Surabaya pada 13 November 2007. Suami Anna Maria itu diduga mengadakan 'pesta' SS bersama empat rekannya yakni Didit Kesit Cahyadi, Freddy Mattatula, Hong Kho Hong, dan Windayati. (*/bun)

Editor:  

Anton