Bosan dengan berita itu-itu saja? Download Aplikasi Liputan6

Sudah Kenakan Baju Tahanan, Olivia Nathania Resmi Jadi Tersangka dan Terancam Hukuman Maksimal 4 Tahun Penjara

Kamis, 11 November 2021 21:45 WIB
Sudah Kenakan Baju Tahanan, Olivia Nathania Resmi Jadi Tersangka dan Terancam Hukuman Maksimal 4 Tahun Penjara
Olivia Nathania resmi ditetapkan sebagai tersangka / Credit Foto: KapanLagi.com - Akrom Sukarya

Kapanlagi.com - Kasus penerimaan CPNS bodong yang dilakukan oleh anak Nia Daniaty, Oliva Nathania masih berlanjut. Penyidik akhirnya menetapkan wanita yang akrab disapa Oi ini sebagai tersangka. Pada Kamis (11/11), Oi menjalani pemeriksaan di Ditrekrimum Polda Metro Jaya selama kurang lebih sekira 10 jam.

Pada pukul 20.20 WIB, Oi keluar dari gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Tampak wanita dari pasangan Nia Daniaty dan Mohamed Hisham itu sudah mengenakan baju tahanan berwarna oranye sambil digelandang petugas untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan.

Jusuf Titale, tim kuasa hukum Olivia Nathania mengatakan penahanan terhadap kliennya itu dilakukan karena sudah terpenuhi semua unsur pidananya. Wanita berusia 29 tahun itu terancam hukuman penjara maksimal empat tahun.

"Sudah cukup bukti dan terpenuhi unsur, pasal 378 ancaman 4 tahun," ungkap Jusuf Titale saat ditemui di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, (11/11) Kamis malam.

1. Olivia Nathania Sudah Akui Perbuatannya

Gambar

Kuasa hukum menyebut Olivia Nathania juga mengakui perbuatannya. Meski begitu, nantinya penangguhan penahanan akan diajukan guna mengurangi hukuman dari Oi.

"Ya seperti begitu. Kita akan ajukan penangguhan penahanan," tukasnya singkat.

Saat digelandang menuju gedung Biddokkes Polda Mtero Jaya, Olivia Nathania bungkam seribu bahasa. Tampak ia hanya tertunduk sambil mengikut arahan petugas yang membawanya.

Sebelumnya, salah satu korban bernama Karnu melaporkan Olivia Nathania dan suaminya, Rafly Noviyanto Tilaar ke Polda Metro Jaya pada 23 September 2021. Laporan yang teregister dengan nomor LP/B/4728/IX/SPKT/Polda Metro Jaya itu menyangkakan dengan Pasal 378 dan atau Pasal 372 dan atau Pasal 263 Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) Tentang Penggelapan, Penipuan, serta Pemalsuan Surat.