Tegaskan Kliennya Bukan Pengguna, Kuasa Hukum Sebut Alasan Roy Kiyoshi Konsumsi Obat-obatan

Selasa, 12 Mei 2020 15:51 WIB
Tegaskan Kliennya Bukan Pengguna, Kuasa Hukum Sebut Alasan Roy Kiyoshi Konsumsi Obat-obatan

Kapanlagi.com - Kuasa hukum Roy Kiyoshi, Henry Indraguna buka suara bagaimana awal kliennya itu menggunakan obat-obatan yang mengandung psikotropika. Ia mengungkapkan kalau Roy Kiyoshi awalnya menderita susah tidur atau insomnia.

Saat ditemui di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Senin (11/5) dengan tegas Henry mengatakan kliennya bukan seorang pengguna. Ia juga menceritakan kenapa penyakit insomnia kliennya itu bisa kambuh.

"Bukan pengguna, Roy sakit kok. Kita sudah tunjukkan, kita sudah buktikan, kita juga sudah memberikan ke penyidik semua bukti-bukti, bahwa dari 2017 dia sudah sakit (insomnia), 2019 dia sakit lagi dan 2020 pada saat pandemi Covid-19 itu kambuh lagi. Makanya dia beli obat dan dia tidak tahu ternyata obat itu mengandung psikotropika golongan 4, kalau dia tau nggak berani beli obat itu," ungkap Henry Indraguna.

"Kenapa Roy bisa kumat lagi insomnianya karena Roy harus di rumah sudah hampir dua bulan, ya mental distancing dia, stres. Tidak bisa tidur akhirnya dia mengambil tindakan untuk beli obat lewat online. Jadi intinya Roy adalah korban dan dia sakit," lanjutnya.

1 dari 2 halaman

1. Tidak Berani Keluar Rumah

Tidak Berani Keluar Rumah © KapanLagi.com/Muhammad Akrom Sukarya
Henry pun juga menuturkan kenapa Roy Kiyoshi tak konsultasi ke dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat tersebut. Sesuai penuturannya, Roy adalah pribadi yang paranoid karena pandemi COVID-19 membuat presenter Karma itu tak berani datang ke dokter.

"Karena lagi pandemi Covid-19, pemerintah sudah menghimbau untuk stay at home. Roy kan orangnya paranoid ya. Nah makanya dia tidak berani datang ke dokter, tidak berani ke apotek, makanya semua lewat online karena dia sudah tiga hari tidak tidur," ujar Henry.

2 dari 2 halaman

2. Obat yang Beredar Luas

Selain itu, menurutnya obat yang dikonsumsi Roy Kiyoshi tersebut beredar luas di toko online. Maka dari itu, Henry berharap pengajuan assessment kliennya itu dapat pertimbangkan untuk dikabulkan.

"Belinya pun dari toko online yang besar dan semua orang bisa mengakses dan beli, ya karena nggak ada larangannya juga. Jadi banyak hal-hal yang perlu dipertimbangkan, ini nantinya akan dikabulkan assessmentnya Roy," pungkasnya.

(kpl/irf/rsp)