BiTV Resmi Beroperasi 2005

Rita Sugihardiyah | 01 Desember 2004, 16:33 WIB
Kapanlagi.com - Pada 2005 BiTV akan resmi beroperasi setelah melakukan uji coba siaran selama setahun sebagai televisi lokal pertama di Kotamadya Bukit Tinggi dan Kabupaten Agam, kata E. Herdie, direktur utama PT Bukittinggi Televisi Sukses Mandiri.

"Saat ini BiTV berupaya mengisi programnya dengan memperbanyak berita, sisanya berisi masalah sosial dan keagamanan. Siaran TV nasional tak semuanya baik untuk diserap orang daerah karena itu kami melengkapi dengan bobot program yang mengedepankan nilai-nilai keagamaan dan budaya daerah," tandasnya.

Meski bukan TV satelit dan dibangun dengan investasi yang minim, BiTV bisa diterima di wilayah Kotamadya Bukittinggi, Padang Panjang dan Kabupaten Agam. Setiap hari dengan jam siaran dari pk 15:00-20:00.

"Kami tidak bisa menyaingi TV nasional dalam program, tapi dengan misi sosial hampir 50%, kami ingin BiTV juga jadi TV kebanggaan masyarakat sebagai satu-satunya media elektronik di Ranah Minang.

Menurut Herdie, sebagai televisi lokal pihaknya tidak terlalu muluk-muluk, asal dapat menjangkau seluruh Sumatra Barat sudah baik karena itu pihaknya kini mengundang investor untuk mengembangkannya.

"Kota kembarnya Bukittinggi adalah Negri Sembilan, Malaysia jadi kami akan berupaya menarik investor dari jiran itu maupun investor lokal lainnya yang punya idealisme sama karena nantinya kami juga menghasilkan program-program untuk memupuk kecintaan pada tanah leluhur," tambahnya.

Menempati gedung eks RRI Bukittinggi, Herdie mengatakan kehadiran TV lokal ini disambut baik semua kalangan terutama Pemda dan jajarannya sehingga awal 2005 pihaknya akan mencoba siaran 12 jam dengan pola enam jam siaran langsung dan sisanya merupakan ulangan.

Sebagai pengusaha asal Bukittinggi, Herdie mengatakan dia tergolong hanya bermodalkan nekad dan berani saja untuk mewujudkan siaran BiTV ini karena semua karyawan yang direkrutnya adalah masyarakat setempat yang tidak memiliki pengalaman broadcasting. Masa uji coba yang cukup panjang digunakan sebagai sarana pembelajaran karena pihaknya menggunakan teknologi penyiaran dengan biaya seefisien mungkin.

"Pokoknya investasi kami paling kecil dari semua TV lokal yang ada dan untuk SDM sebanyak 10 calon karyawan ditraining dulu di Jakarta dan setelah kembali mereka mempraktekan teori yang didapat dan kami mulai siaran," ungkapnya.

Meski milik swasta, kehadiran televisi lokal dapat membantu pemerintah kota untuk mensosialisasikan programnya dan menjadi sarana dalam penyampaian informasi kepada masyarakat. Di lain pihak masyarakat juga dapat mengetahui berbagai kegiatan lainnya yang terjadi dalam keseharian komunitas mereka.

Menurut Herdie, pihaknya berharap melalui BiTV pihaknya dapat berkontribusi dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan agama yang memang tetap dipegang kuat oleh masyarakat. Bahkan untuk ke depan BiTV juga akan mempelopori sinetron yang bernilai-nilai dasar dari kedaerahan ranah Minang.

"Sekarang ini yang banyak muncul di televisi nasional adalah sinetron-sinetron berlatar belakang budaya Betawi, kita juga ingin memproduksi dengan latar belakang budaya Minangkabau," ujarnya.

"Kalau cerita Siti Nurbaya dengan tokoh Datuk Maringgih bisa menjadi tayangan nasional, maka cerita Malin Kundang, Salah Asuhan dan cerita rakyat lainnya dari Sumatra Barat juga dapat diangkat menjadi sinetron atau film nasional", tandasnya.

Menurut Herdie, karena TV lokal juga sudah berkembang di berbagai daerah maka pihaknya juga akan mempelopori pertukaran program dan BiTV akan menyiapkan program siaran yang bertujuan untuk mempromosikan wisata daerah.

"Kalau pertukaran program ini bisa jalankan kita dapat menggerakkan wisata nusantara yang berarti menggerakkan perekonomian daerah," tambahnya. (bis/rit)

Editor:  

Rita Sugihardiyah